Jangan Katakan Ini Saat Anak Marah! Bisa Bikin Trauma

Jangan Katakan Ini Saat Anak Marah! Bisa Bikin Trauma
Jangan Katakan Ini Saat Anak Marah! Bisa Bikin Trauma (www.freepik.com)

Tawaran Bantuan: “Bagaimana Aku Bisa Membantumu?”

Setelah emosi anak sedikit mereda, tawarkan bantuan untuk mencari solusi. Pertanyaan seperti “Bagaimana aku bisa membantumu?” atau “Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk membuatmu merasa lebih baik?” memberdayakan anak untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah dan mengajarkan mereka keterampilan problem-solving.

Penting untuk diingat bahwa pada saat emosi sedang memuncak, anak mungkin belum bisa berpikir jernih. Anda mungkin perlu memberikan beberapa pilihan atau arahan, tetapi tetap libatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Batasan yang Jelas dengan Empati: “Aku Tahu Kamu Marah, Tapi Memukul Itu Tidak Boleh”

Menetapkan batasan yang jelas sangat penting, bahkan ketika anak sedang marah. Anda bisa mengakui emosi mereka sambil tetap menegaskan perilaku yang tidak dapat diterima. Contohnya, “Aku tahu kamu sangat marah karena adikmu mengambil mainanmu, tapi memukul itu tidak boleh. Kita bisa mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini.”

Pendekatan ini mengajarkan anak bahwa semua emosi itu valid, tetapi tidak semua perilaku itu dapat diterima. Ini membantu mereka belajar untuk mengekspresikan kemarahan mereka tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Mengajak Berbicara: “Ceritakan Padaku Apa yang Terjadi”

Setelah anak mulai tenang, ajak mereka untuk menceritakan apa yang membuat mereka marah. Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa menghakimi atau menyela. Biarkan mereka mengungkapkan semua perasaan mereka.

Proses bercerita membantu anak untuk memproses emosi mereka dan merasa didengarkan. Ini juga memberi Anda kesempatan untuk memahami akar masalah dan membantu mereka mencari solusi yang tepat.

Mengajak Mencari Solusi Bersama: “Mari Kita Pikirkan Apa yang Bisa Kita Lakukan”

Setelah anak selesai bercerita, ajak mereka untuk berpikir bersama tentang solusi. Tanyakan pendapat mereka dan berikan ide-ide Anda juga. Proses kolaborasi ini mengajarkan anak keterampilan problem-solving dan menunjukkan bahwa Anda menghargai pemikiran mereka.

Ingatlah bahwa solusi yang ditemukan mungkin tidak selalu sempurna, tetapi yang terpenting adalah prosesnya dan pelajaran yang didapatkan anak.

Menawarkan Ruang: “Kamu Bisa Menenangkan Diri Dulu di Sini”

Terkadang, anak yang sedang marah hanya membutuhkan waktu dan ruang untuk menenangkan diri. Tawarkan mereka tempat yang aman dan nyaman di mana mereka bisa sendiri untuk sementara waktu. Katakan, “Kamu bisa menenangkan diri dulu di sini. Kalau sudah merasa lebih baik, kita bisa bicara lagi.”

Penting untuk menekankan bahwa ini bukan hukuman, tetapi kesempatan bagi mereka untuk mengatur emosi mereka sendiri. Pastikan mereka tahu bahwa Anda akan tetap ada untuk mereka ketika mereka siap.

Menawarkan Alternatif: “Bagaimana Kalau Kita Coba Cara Lain?”

Jika kemarahan anak disebabkan oleh frustrasi karena tidak bisa melakukan sesuatu, tawarkan alternatif atau cara lain untuk mencapai tujuan mereka. Misalnya, jika mereka marah karena tidak bisa membangun menara yang tinggi dengan balok, Anda bisa berkata, “Bagaimana kalau kita coba membangun menara yang lebih pendek tapi lebih lebar?”

Menawarkan alternatif membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa frustrasi dan memberikan mereka rasa kontrol.

Mengakhiri dengan Positif: “Aku Sayang Kamu, Meskipun Kamu Sedang Marah”

Setelah situasi mereda, pastikan untuk mengakhiri interaksi dengan pesan yang positif dan penuh kasih. Katakan “Aku sayang kamu, meskipun kamu sedang marah” atau “Terima kasih sudah mau bicara denganku.” Ini mengingatkan anak bahwa cinta dan penerimaan Anda tidak bersyarat, bahkan ketika mereka sedang mengalami emosi yang sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *