“Produk tidak cukup hanya dibuat dan disimpan. Ia harus diperkenalkan, digunakan, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Karena tujuan akhirnya adalah bagaimana inovasi ini bisa memberi nilai bagi kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia mengatakan pengenalan ECOSA 18UU di lima kecamatan juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi dengan masyarakat mengenai potensi pengembangan produk ramah lingkungan berbasis bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Bhayangkari Cabang Lombok Utara berharap ECOSA 18UU dapat menjadi pemantik bagi kelompok perempuan, ibu rumah tangga, maupun komunitas untuk mulai melihat potensi pengelolaan bahan organik dari lingkungan terdekat.
“Ketika sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat kita olah menjadi produk yang bermanfaat, di situlah sebenarnya nilai dari sebuah inovasi. Kami berharap semangat itu dapat tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Heny.
ECOSA 18UU masih akan terus dikembangkan melalui kolaborasi dan evaluasi terhadap produk serta pemanfaatannya.
Bhayangkari Cabang Lombok Utara juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas edukasi mengenai Eco Enzyme dan pengembangan inovasi berbasis lingkungan.
“Kami tidak ingin ECOSA berhenti sebagai sebuah nama atau produk. Kami ingin ada pengetahuan, kepedulian, dan semangat keberlanjutan yang ikut tumbuh bersama produk ini,” kata Heny.






