Pernahkah Anda merasa sangat bahagia bukan karena barang yang mahal, melainkan karena pasangan tiba-tiba membelikan makanan kesukaan Anda saat jam kerja usang? Atau mungkin Anda justru merasa hampa ketika seseorang memberikan hadiah mewah, tetapi tidak pernah ada di sisi Anda saat butuh ditemani? Di sinilah konsep psikologi modern mengenai bahasa cinta atau yang lebih populer disebut love language berperan penting.
Dalam dunia psikologi hubungan, salah satu bentuk ekspresi kasih sayang yang paling nyata dan sering disalahartikan adalah receiving gifts. Bagi sebagian orang, hadiah adalah simbol materialisme belaka. Namun, bagi pemilik love language ini, kado atau pemberian adalah bahasa cinta yang paling murni dan penuh makna.
Lantas, apa sebenarnya arti dari receiving gifts itu sendiri? Dan bagaimana hubungannya dengan peta besar konsep love language yang digagas oleh Dr. Gary Chapman? Mari kita bedah tuntas agar Anda bisa lebih memahami diri sendiri maupun pasangan Anda.
Memahami Konsep Dasar Receiving Gifts
Secara harfiah, receiving gifts berarti menerima hadiah. Namun, dalam konteks psikologi hubungan asmara dan sosial, istilah ini merujuk pada salah satu dari lima jenis love language (bahasa cinta) di mana seseorang merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan melalui pemberian fisik atau materi.
Penting untuk diluruskan sejak awal: receiving gifts sama sekali tidak berkaitan dengan sifat materialistis, mata duitan, atau suka memanfaatkan orang lain. Orang dengan bahasa cinta ini tidak menuntut barang-barang bermerek dengan harga fantastis. Nilai dari hadiah tersebut bukanlah terletak pada nominal rupiahnya, melainkan pada usaha, waktu, dan pikiran yang dicurahkan oleh si pemberi saat memilih atau membuat hadiah tersebut.
Bagi mereka, hadiah adalah representasi visual dari rasa cinta. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk mencari sesuatu yang disukai oleh pasangannya, lalu membungkusnya dan memberikannya di saat yang tidak terduga, itu adalah bukti nyata bahwa pasangannya selalu ada di dalam pikiran mereka bahkan ketika mereka sedang tidak bersama.
Hubungan Erat Antara Receiving Gifts dan Love Language
Konsep love language pertama kali dipopulerkan oleh seorang konselor pernikahan asal Amerika Serikat, Dr. Gary Chapman, dalam bukunya yang terbit pada tahun 1992, The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts. Chapman mengidentifikasi bahwa setiap manusia memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan dan menerima cinta.
Kelima bahasa cinta tersebut meliputi Words of Affirmation (kata-kata penegasan), Acts of Service (tindakan pelayanan), Receiving Gifts (menerima hadiah), Quality Time (waktu berkualitas), dan Physical Touch (sentuhan fisik).
Dalam kerangka berpikir ini, receiving gifts menempati posisi yang unik. Hadiah berfungsi sebagai “jangkar emosional”. Ketika hubungan menghadapi masa-masa sulit atau jarak memisahkan (hubungan jarak jauh atau LDR), hadiah fisik yang ditinggalkan atau dikirimkan dapat menjadi pengingat yang kuat akan kehadiran dan komitmen pasangan.
Hubungan antara receiving gifts dan love language terletak pada bagaimana sebuah simbol fisik mampu menerjemahkan perasaan abstrak (cinta dan kasih sayang) menjadi sesuatu yang nyata dan bisa disentuh. Bagi individu dengan bahasa cinta ini, cinta itu nyata karena ada buktinya. Bukti tersebut tidak harus selalu besar; sebuah batu kecil dengan bentuk unik yang dipungut di pantai atau tiket bioskop bekas yang disimpan rapi bisa memiliki nilai emosional yang jauh lebih tinggi daripada perhiasan mahal.
Ciri-Ciri Orang dengan Love Language Receiving Gifts
Agar Anda tidak salah langkah dalam memperlakukan pasangan—atau bahkan untuk mengenali diri sendiri—berikut adalah beberapa karakteristik utama dari mereka yang memiliki bahasa cinta receiving gifts:
- Selalu Menyimpan Kenangan Kecil: Mereka adalah tipe orang yang menyimpan tiket bioskop pertama, pembungkus kado tua, atau bunga kering pemberian Anda bertahun-tahun lalu. Bagi mereka, barang-barang tersebut menyimpan memori emosional yang berharga.
- Sangat Menghargai Usaha (Thoughtfulness): Mereka lebih terkesan oleh hadiah sederhana yang sangat relevan dengan hobi atau kebutuhan mereka, dibandingkan barang mahal tapi dibeli secara asal-asalan.
- Merasa Sedih Jika Terlewatkan di Momen Spesial: Hari ulang tahun, hari jadi (anniversary), atau hari-hari penting lainnya sangat krusial bagi mereka. Bukan karena hadiahnya, melainkan karena mereka menganggap momen tersebut sebagai waktu di mana perhatian harus dicurahkan sepenuhnya.
- Suka Memberi Hadiah Juga: Cinta itu dua arah. Orang dengan bahasa cinta receiving gifts biasanya juga sangat dermawan dan suka membelikan hadiah untuk orang terdekat mereka sebagai bentuk ekspresi kasih sayang.
Miskonsepsi yang Sering Terjadi
Karena masyarakat sering kali keliru memahami istilah ini, penting untuk meluruskan beberapa mitos seputar receiving gifts dalam hubungan:
1. Dianggap Materialistis
Ini adalah kesalahpahaman terbesar. Orang matang secara emosional yang memiliki bahasa cinta ini tidak peduli dengan merek atau harga barang. Mereka peduli pada makna di balik barang tersebut. Secangkir kopi hangat yang dibawakan saat hujan turun bisa jauh lebih berharga daripada tas mewah yang dibeli tanpa ketulusan.
2. Hanya Senang Menerima, Tidak Mau Berkorban
Faktanya, penelitian psikologi hubungan menunjukkan bahwa mereka yang senang menerima hadiah juga sangat memperhatikan bahasa cinta orang lain. Mereka adalah pemberi yang royal, baik dalam bentuk barang maupun perhatian emosional.
Tips Menjalin Hubungan dengan Pemilik Love Language Ini
Jika pasangan Anda memiliki bahasa cinta receiving gifts, ada beberapa strategi komunikasi yang bisa Anda terapkan untuk membuat hubungan semakin harmonis dan minim konflik:
- Perhatikan Hal-Hal Kecil: Dengarkan dengan seksama ketika pasangan Anda tidak sengaja mengeluh tentang barangnya yang rusak, atau ketika mereka memuji suatu benda di mal. Catat itu dalam pikiran Anda sebagai referensi untuk hadiah di masa depan.
- Manfaatkan Momen Tanpa Alasan: Jangan hanya memberikan hadiah saat hari ulang tahun atau anniversary. Hadiah kecil yang diberikan secara spontan di hari biasa justru akan memberikan dampak emosional yang jauh lebih besar karena menunjukkan bahwa Anda memikirkannya di luar kewajiban perayaan tertentu.
- Bungkus dengan Kata-Kata Manis: Selalu sertakan kartu ucapan kecil yang ditulis tangan. Kombinasi antara hadiah fisik dan kata-kata penuh cinta akan membuat pemilik love language ini merasa sangat dihargai dan dicintai seutuhnya.
- Fokus pada Niat, Bukan Harga: Jangan merasa tertekan secara finansial. Ingatlah bahwa kreativitas dan ketulusan jauh lebih penting daripada anggaran yang besar.
Receiving gifts jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas bertukar barang atau budaya konsumtif modern. Dalam peta love language, ini adalah tentang bagaimana seseorang menterjemahkan perhatian, waktu, dan kasih sayang menjadi bentuk fisik yang bisa dirasakan dan dikenang.
Memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memaknai cinta adalah kunci utama dalam membangun hubungan yang langgeng, sehat, dan minim salah paham. Jadi, apakah bahasa cinta Anda atau pasangan Anda adalah receiving gifts? Mulailah peka terhadap gestur-gestur kecil penuh makna di sekitar Anda, karena terkadang, cinta sejati hadir dalam bentuk bungkusan sederhana yang penuh dengan ketulusan.












