Komunikasi Proaktif tentang Ketersediaan
Secara halus, kamu bisa mengkomunikasikan ketersediaanmu. Misalnya, di signature email, kamu bisa menulis: “Saya akan merespons email dan pesan selama jam kerja (misalnya, 09.00 – 17.00 WIB) pada hari kerja.” Atau, jika atasan sering menghubungi di luar jam kerja, kamu bisa menyampaikan secara langsung, “Pak/Bu, saya akan memastikan untuk segera menindaklanjuti pesan ini besok pagi saat saya mulai bekerja.” Ini bukan penolakan, tapi penetapan batasan yang jelas.
Memanfaatkan Fitur “Do Not Disturb”
Di ponsel, aktifkan fitur “Do Not Disturb” atau mode senyap untuk notifikasi pekerjaan di luar jam kerjamu. Tentu, kamu bisa tetap mengaktifkannya untuk panggilan darurat dari orang terdekat. Ini akan membantumu rileks tanpa merasa terganggu oleh pesan pekerjaan yang tidak mendesak.
2. Pertahankan Komunikasi yang Profesional dan Dokumentasikan
Ketika atasan menghubungi secara pribadi, pastikan kamu tetap menjaga nada yang profesional.
Alihkan Percakapan Pribadi ke Saluran Resmi
Jika atasan menghubungi secara pribadi (misalnya via WhatsApp pribadi) untuk urusan pekerjaan mendesak, tanggapi pesan tersebut, tapi sarankan untuk melanjutkan diskusi di saluran komunikasi resmi. Misalnya, “Baik, Pak/Bu, saya akan cek ini. Untuk diskusi lebih lanjut agar terdokumentasi dengan baik, bolehkah kita melanjutkan melalui email atau platform kerja tim?” Ini secara tidak langsung mengedukasi atasan tentang saluran komunikasi yang lebih tepat dan profesional.
Simpan Bukti Komunikasi
Jika atasan sering memberikan instruksi penting melalui pesan pribadi, usahakan untuk memindahkan instruksi tersebut ke email atau platform kerja yang terdokumentasi. Misalnya, “Terima kasih atas instruksinya, Pak/Bu. Untuk memastikan saya tidak melewatkan detail apapun, saya akan kirimkan rangkuman instruksi ini melalui email untuk konfirmasi.” Ini juga berfungsi sebagai bukti jika di kemudian hari ada kesalahpahaman.
3. Hadapi Teguran Publik dengan Tenang dan Profesional
Ini mungkin bagian tersulit, tapi sangat penting untuk tidak terpancing emosi.
Jangan Balas di Depan Umum
Jika atasan menegur di grup chat atau di depan umum, hindari membalas atau membela diri di forum tersebut. Ini bisa memperburuk situasi dan membuatmu terlihat tidak profesional. Alih-alih, akui bahwa kamu telah menerima pesan tersebut. Contoh: “Baik, Pak/Bu, terima kasih atas informasinya. Saya akan segera tindak lanjuti.”
Minta Diskusi Empat Mata
Setelah menerima teguran publik, segera minta waktu untuk berbicara empat mata dengan atasanmu. Kamu bisa mengirim pesan pribadi kepadanya: “Pak/Bu, terkait pesan di grup tadi, bolehkah saya minta waktu sebentar untuk berdiskusi secara pribadi agar saya bisa memahami lebih jelas dan belajar dari kesalahan ini?” Ini menunjukkan kemauanmu untuk bertanggung jawab dan juga menetapkan ekspektasi bahwa teguran seharusnya dilakukan secara privat.
Ungkapkan Perasaanmu dengan Konstruktif
Saat berdiskusi empat mata, sampaikan perasaanmu secara asertif, bukan agresif. Fokus pada bagaimana perilaku atasan mempengaruhimu, bukan menuduh. Contoh: “Pak/Bu, saya memahami pentingnya masukan untuk perbaikan. Namun, ketika teguran disampaikan di grup chat, saya merasa sedikit kurang nyaman dan kesulitan untuk berdiskusi secara terbuka mengenai akar masalahnya. Saya sangat menghargai jika di masa mendatang, masukan atau teguran bisa disampaikan secara pribadi agar saya bisa belajar lebih baik dan berdiskusi secara lebih mendalam.”
4. Kembangkan Keterampilan Komunikasi Asertif
Ini bukan hanya tentang bagaimana atasanmu berkomunikasi, tapi juga bagaimana kamu mengkomunikasikan kebutuhan dan batasanmu.






