Pernahkah Anda mendapati diri Anda terus-menerus menggulir layar ponsel hingga larut malam, tenggelam dalam berita-berita negatif, bencana, atau konflik global? Fenomena ini kini punya istilah medis dan psikologis: doomscrolling.
Di tengah gempuran informasi digital dan algoritma media sosial yang dirancang untuk memenjarakan perhatian, kebiasaan ini telah menjadi bagian dari rutinitas harian jutaan orang. Tanpa disadari, aktivitas yang tampak sepele ini membawa dampak buruk doomscrolling yang signifikan bagi kesehatan mental dan kualitas tidur seseorang.
Apa Itu Doomscrolling?
Secara sederhana, doomscrolling adalah tindakan kompulsif untuk terus mencari dan membaca berita atau konten negatif di internet. Meskipun tahu bahwa informasi tersebut akan membuat perasaan menjadi cemas, sedih, atau marah, seseorang tetap merasa tidak bisa berhenti menyapu layar ponselnya (scrolling).
Fenomena ini sebenarnya berakar dari insting bertahan hidup manusia yang disebut negativity bias. Otak kita secara evolusioner lebih peka terhadap ancaman atau berita buruk demi keselamatan diri. Sayangnya, di era modern, mekanisme ini justru dieksploitasi oleh platform digital, di mana informasi negatif sering kali mendominasi linimasa dan memicu siklus kecemasan tiada akhir.
Jeratan Kecemasan dan Penurunan Kesehatan Mental
Dampak paling nyata dari kebiasaan ini langsung menyerang psikologis seseorang. Ketika Anda membaca rentetan berita buruk secara konstan, otak melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah yang lebih tinggi dari normal.
Kondisi ini memicu respons fight-or-flight (lawan atau lari), membuat tubuh berada dalam status siaga terus-menerus meskipun Anda hanya berbaring di atas kasur. Akibatnya, dampak buruk doomscrolling terhadap kesehatan mental meliputi:
- Peningkatan Kecemasan dan Depresi: Paparan informasi negatif yang berulang-ulang dapat memperparah gangguan kecemasan yang sudah ada atau memicu munculnya gejala depresi baru.
- Perasaan Kewalahan (Overwhelmed): Terlalu banyak informasi buruk membuat seseorang merasa tidak berdaya menghadapi kondisi dunia, yang berujung pada kelelahan mental atau burnout.
- Pikiran Negatif yang Berkelanjutan: Pikiran bawah sadar akan terus memproses skenario-skenario terburuk dari berita yang dibaca, membuat suasana hati menjadi buruk sepanjang hari.
Membabat Habis Kualitas Tidur
Selain menggerus kesehatan mental, doomscrolling adalah musuh utama bagi jam biologis tubuh atau ritme sirkadian. Kebiasaan ini biasanya dilakukan di atas tempat tidur menjelang waktu istirahat.
Ada dua faktor utama mengapa kebiasaan ini merusak pola tidur. Pertama, paparan cahaya biru (blue light) dari layar ponsel secara langsung menghambat produksi melatonin, yaitu hormon yang bertugas memberi sinyal kepada tubuh bahwa sudah waktunya tidur.
Kedua, stimulasi mental yang tinggi akibat membaca berita menegangkan membuat otak sulit untuk rileks. Alih-alih terlelap, pikiran justru menjadi sangat aktif. Akibatnya, seseorang mengalami kesulitan untuk memulai tidur (sleep onset insomnia), sering terbangun di tengah malam, atau merasa tidak segar keesokan harinya karena kualitas tidur yang buruk. Kurang tidur kronis ini kemudian menciptakan lingkaran setan: kelelahan fisik membuat seseorang lebih rentan secara emosional dan semakin mudah terjebak kembali dalam doomscrolling.
Cara Memutus Rantai Doomscrolling
Menyadari bahaya yang mengintai, penting untuk segera mengambil kendali atas konsumsi digital Anda. Memutus kebiasaan ini memang tidak mudah, namun sangat mungkin dilakukan dengan beberapa langkah sadar.
Langkah pertama adalah menetapkan batasan tegas atau digital curfew. Batasi penggunaan ponsel setidaknya satu jam sebelum waktu tidur, dan letakkan perangkat jauh dari jangkauan tempat tidur. Sebagai pengganti, Anda bisa membaca buku fisik atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Selain itu, kurangi notifikasi dari aplikasi berita atau media sosial yang tidak penting. Anda juga bisa memanfaatkan fitur screen time untuk memantau durasi penggunaan ponsel setiap hari. Ingatlah bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena Anda tidak membaca berita selama beberapa jam. Menjaga kewarasan mental dan kesehatan fisik jauh lebih berharga daripada memborbardir diri dengan informasi negatif yang berada di luar kendali Anda.








