Istilah quiet quitting atau pengunduran diri secara diam-diam yang awalnya populer di dunia kerja kini mulai merambah ranah domestik. Fenomena ini menggambarkan situasi ketika seseorang tetap berada dalam suatu hubungan, namun secara emosional dan mental mereka telah sepenuhnya menarik diri.
Berbeda dengan perceraian atau perpisahan fisik yang ditandai dengan pertengkaran hebat atau keputusan hukum, quiet quitting dalam pernikahan justru berjalan senyap. Pasangan tetap menjalankan rutinitas harian seperti biasa—mengurus rumah, merawat anak, bahkan tidur di ranjang yang sama—namun tanpa ada lagi investasi emosional di dalamnya.
Fenomena ini sering kali luput dari perhatian karena tidak ada drama yang meledak-ledak. Padahal, secara psikologis, kondisi ini menunjukkan adanya keletihan kronis dan hilangnya harapan. Untuk memahami lebih dalam mengapa hal ini bisa terjadi, mari kita bedah ciri psikologis utama pasangan yang mengalami quiet quitting dalam pernikahan.
1. Kelelahan Emosional Kronis (Emotional Exhaustion)
Akar dari quiet quitting dalam pernikahan hampir selalu berawal dari kelelahan emosional yang mendalam. Salah satu atau kedua pasangan merasa bahwa mereka telah mencurahkan waktu, tenaga, dan cinta selama bertahun-tahun, tetapi tidak mendapatkan timbal balik yang sepadan.
Dalam psikologi pernikahan, hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik emosional yang konstan. Ketika seseorang merasa usahanya selalu diabaikan, mekanisme pertahanan diri akan aktif. Otak dan mental mereka secara otomatis melakukan “penghematan energi” dengan cara berhenti peduli. Mereka tidak lagi marah ketika dikecewakan, karena rasa kecewa itu sendiri telah berubah menjadi mati rasa.
Kelelahan ini membuat mereka menarik diri dari percakapan yang mendalam. Alih-alih membahas masalah untuk mencari solusi, mereka memilih untuk memendam semuanya karena merasa proses tersebut hanya akan berujung pada kelelahan baru yang sia-sia.
2. Apatis dan Hilangnya Keinginan untuk Berkonflik
Banyak orang mengira pertengkaran adalah tanda kehancuran sebuah pernikahan. Namun, para pakar hubungan justru berpendapat sebaliknya: diam jauh lebih berbahaya daripada pertengkaran. Ketika pasangan mulai mengalami quiet quitting, mereka menunjukkan gejala apatis yang akut.
Ciri psikologis yang paling mencolok dari fase ini adalah hilangnya minat untuk berdebat atau memperbaiki keadaan. Jika dulunya mereka sering protes mengenai pembagian tugas rumah tangga atau kurangnya perhatian, kini mereka membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
Sikap “bodo amat” ini muncul karena mereka sudah kehilangan keyakinan bahwa suara mereka akan didengar. Mereka tidak lagi peduli apakah pasangannya akan marah atau bahagia. Bagi mereka, energi untuk berkonflik sudah habis, dan mereka lebih memilih kedamaian semu daripada harus terus menerus memperjuangkan hubungan yang mereka anggap sudah stagnan.
3. Penarikan Investasi Emosional (Emotional Withdrawal)
Dalam investasi finansial, seseorang akan menarik dananya jika sebuah instrumen tidak lagi memberikan keuntungan. Hal yang sama terjadi secara psikologis pada quiet quitting dalam pernikahan. Pasangan secara sadar atau tidak sadar menarik kembali seluruh “saham emosional” mereka.
Mereka berhenti berbagi cerita tentang hari-hari mereka, menghentikan kebiasaan kecil seperti menanyakan kabar saat bekerja, dan tidak lagi mencari kenyamanan pada pasangan ketika menghadapi stres. Ruang intim dalam hubungan dibatasi secara ketat. Hubungan fisik, jika masih ada, sering kali dilakukan sekadar sebagai kewajiban mekanis, bukan lagi sebagai ekspresi cinta dan kasih sayang.
Mereka mulai membangun dunia sendiri di luar pernikahan. Fokus hidup mereka bergeser sepenuhnya pada karier, hobi, anak-anak, atau lingkaran pertemanan. Pasangan tidak lagi menjadi tempat berlabuh utama, melainkan sekadar “rekan sekamar” yang berbagi alamat rumah.
4. Kehilangan Harapan (Hopelessness) dan Fatalisme
Rasa putus asa adalah bahan bakar utama dari quiet quitting. Pasangan yang mengalami kondisi ini biasanya sudah melewati fase negosiasi dan frustrasi. Di titik ini, mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa pernikahan mereka tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Fatalisme mulai mendominasi pola pikir mereka. Mereka menerima nasib pernikahan tersebut dengan pasrah, tanpa ada secercah pun harapan untuk masa depan bersama. Pemikiran seperti “Ya sudah, jalani saja sampai anak-anak besar” atau “Memang begini takdir pernikahan” sering kali terlintas di benak mereka.
Meskipun masih bertahan secara administratif dan sosial, secara psikologis mereka telah menganggap pernikahan tersebut telah berakhir sejak lama. Harapan akan adanya keintiman, kehangatan, dan dukungan timbal balik telah digantikan oleh sikap pesimis yang permanen.
5. Menurunnya Empati dan Validasi
Empati adalah fondasi utama dari keintiman pernikahan. Ketika seseorang melakukan quiet quitting, kapasitas empati mereka terhadap pasangan merosot tajam. Mereka menjadi acuh tak acuh terhadap kesedihan, kesuksesan, maupun stres yang dialami oleh pasangan.
Ketika pasangan menceritakan masalah hari ini, mereka mungkin mendengarkan secara harfiah, tetapi tanpa ada keterlibatan batin atau validasi emosional. Tidak ada lagi pelukan hangat, kata-kata penenang, atau tatapan penuh pengertian.
Sikap dingin ini bukan semata-mata karena mereka ingin bersikap jahat, melainkan karena cadangan empati mereka telah habis terkuras. Mereka merasa bahwa pasangan mereka sudah bukan lagi prioritas yang layak mendapatkan perhatian emosional yang mendalam.
Dampak Jangka Panjang dan Jalan Keluar
Quiet quitting dalam pernikahan adalah bom waktu yang berjalan lambat. Meskipun pada awalnya tampak tenang dan minim konflik, kondisi ini perlahan-lahan menggerogoti kesehatan mental kedua belah pihak. Anak-anak, jika ada, sering kali dapat merasakan ketegangan dan ketiadaan kehangatan emosional di dalam rumah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi mereka tentang hubungan di masa depan.
Menghadapi fenomena ini membutuhkan keberanian yang besar dari kedua belah pihak. Langkah pertama untuk memulihkan keadaan adalah dengan menyadari adanya masalah dan menghentikan kebiasaan saling diam. Komunikasi yang jujur, pengakuan atas kelelahan emosional, serta kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi adalah kunci utama.
Dalam banyak kasus, bantuan profesional seperti konselor pernikahan atau psikolog sangat dibutuhkan. Terapis dapat membantu membongkar akar permasalahan, mengembalikan empati yang hilang, dan memandu pasangan untuk memutuskan apakah hubungan ini masih bisa dibangun kembali atau memang harus diakhiri dengan cara yang sehat.
Pernikahan yang sehat tidak dibangun di atas dasar bertahan hidup semata, melainkan atas dasar pertumbuhan bersama, cinta, dan penghargaan. Mengubah quiet quitting menjadi re-engagement (keterlibatan ulang) bukanlah hal yang mudah, namun dengan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak, kehangatan yang sempat hilang perlahan-lahan dapat dihidupkan kembali.












