Bekerja memang menjadi sumber penghasilan dan rasa percaya diri bagi banyak orang. Namun, ada titik ketika pekerjaan justru menggerus kesehatan jiwa. Rasa lelah yang terus menumpuk, cemas setiap hari Senin, hingga kehilangan semangat untuk hal-hal yang dulu disukai bisa menjadi sinyal bahwa sesuatu sedang tidak beres. Pada titik tertentu, keputusan untuk mengundurkan diri bukan lagi soal ambisi, melainkan upaya menyelamatkan diri sendiri. Lalu, kapan sebenarnya seseorang perlu mempertimbangkan tanda resign kerja demi menjaga kesehatan mental?
Kelelahan yang Tidak Kunjung Pulih
Lelah setelah bekerja seharian adalah hal yang wajar. Masalahnya muncul ketika rasa lelah itu tidak hilang meski sudah cukup istirahat. Akhir pekan pun terasa tidak cukup untuk memulihkan tenaga, dan tubuh seolah selalu dalam kondisi siaga.
World Health Organization (WHO) memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan. WHO menjelaskan burnout sebagai stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Ciri utamanya meliputi kelelahan emosional, jarak mental dari pekerjaan disertai sikap sinis, serta penurunan rasa efektivitas dalam bekerja. Jika ketiga hal ini terasa sudah lama, kondisi tersebut layak diperhatikan dengan serius.
Kecemasan yang Terus Menghantui
Sebagian orang merasakan gelisah sejak malam hari sebelum bekerja. Jantung berdebar ketika notifikasi pesan dari kantor masuk, bahkan di luar jam kerja. Kondisi seperti ini sering disebut anxiety terkait pekerjaan.
Jika kecemasan tersebut mulai memengaruhi tidur, nafsu makan, atau hubungan dengan keluarga dan teman, itu adalah tanda bahwa lingkungan kerja sudah berdampak buruk pada kesehatan mental. Tubuh dan pikiran sebenarnya sedang memberi peringatan, dan mengabaikannya dalam jangka panjang bisa berujung pada gangguan kecemasan atau depresi.
Kehilangan Makna dan Motivasi
Tanda lain yang sering luput disadari adalah hilangnya makna dalam bekerja. Pekerjaan yang dulu menantang kini terasa hambar. Target dikejar tanpa semangat, rapat dijalani dengan pikiran melayang, dan pencapaian kecil tidak lagi memberi kepuasan.
Kondisi ini tidak selalu berarti seseorang malas. Bisa jadi nilai pribadinya sudah tidak sejalan dengan budaya perusahaan, atau kontribusinya tidak lagi dihargai. Ketika rasa bermakna itu hilang sepenuhnya, bertahan di posisi yang sama justru membuat seseorang kehilangan arah.
Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat
Tidak semua masalah berasal dari beban kerja. Atasan yang kerap merendahkan, rekan kerja yang toksik, atau budaya kerja yang menormalkan lembur tanpa batas dapat menguras energi secara perlahan. Pelecehan verbal, intimidasi, atau diskriminasi juga termasuk kondisi yang tidak boleh dianggap remeh.
Jika seseorang sudah berulang kali mencoba menyampaikan keluhan melalui jalur yang tersedia, tetapi tidak ada perubahan, maka keputusan untuk pergi bisa menjadi langkah yang masuk akal. Menjaga martabat dan rasa aman jauh lebih penting daripada mempertahankan posisi yang merusak diri.
Gangguan pada Kesehatan Fisik
Stres kerja yang berkepanjangan sering kali terlihat dari tubuh. Sakit kepala yang berulang, gangguan pencernaan, nyeri otot tanpa sebab jelas, hingga daya tahan tubuh yang menurun bisa menjadi akibat dari tekanan psikologis. Banyak orang baru menyadari hubungan ini setelah rutin berobat tanpa hasil memuaskan.
Jika kondisi fisik terus memburuk dan dokter sudah menyarankan pengurangan stres, pertimbangan untuk berhenti dari pekerjaan perlu dilihat sebagai bagian dari perawatan kesehatan, bukan sekadar keputusan karier.
Pertimbangkan Kesiapan Sebelum Mengundurkan Diri
Meninggalkan pekerjaan tanpa persiapan dapat menimbulkan masalah baru, terutama secara finansial. Karena itu, penting untuk menilai beberapa hal sebelum mengambil keputusan. Pertama, pastikan tabungan atau dana darurat cukup untuk menopang kebutuhan dasar selama masa transisi. Banyak perencana keuangan menyarankan dana darurat setara tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan.
Kedua, pahami ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku. Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, pekerja yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri umumnya wajib memberitahukan secara tertulis paling lambat 30 hari sebelum tanggal pengunduran diri. Ketentuan detail seperti hak atas uang pisah atau sisa cuti juga sebaiknya diperiksa di perjanjian kerja atau peraturan perusahaan. Untuk kepastian, konsultasi dengan dinas ketenagakerjaan setempat atau serikat pekerja dapat membantu.
Ketiga, siapkan rencana setelah keluar. Entah itu mencari pekerjaan baru, mengambil waktu rehat, atau memulai usaha, memiliki arah yang jelas akan membuat transisi lebih terkendali.
Mencari Bantuan Profesional
Jika kondisi mental sudah sangat mengganggu, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jauh lebih baik daripada memutuskan segalanya sendirian. Tenaga profesional dapat membantu melihat situasi dengan lebih objektif dan menyusun langkah yang realistis. Terkadang, konseling juga membantu memastikan apakah masalah berasal dari pekerjaan, kondisi pribadi, atau kombinasi keduanya.
Bagi sebagian orang, berbicara dengan atasan atau bagian SDM mengenai penyesuaian beban kerja, perpindahan divisi, atau cuti panjang juga bisa menjadi opsi sebelum memutuskan keluar. Namun, jika lingkungan tidak memberi ruang untuk perbaikan, memilih pergi adalah bentuk keberanian yang sah.
Kesehatan Mental adalah Prioritas
Keputusan untuk resign tidak selalu berarti kegagalan. Kadang, itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang-orang yang bergantung pada kita. Pekerjaan seharusnya menopang kehidupan, bukan merampas ketenangan batin.
Jika beberapa tanda di atas terasa sangat dekat dengan kondisi yang kamu alami, luangkan waktu untuk merenung. Evaluasi apa yang masih bisa diperbaiki, apa yang sudah tidak bisa dipertahankan, dan langkah apa yang paling aman untuk diambil. Dengan persiapan yang matang dan dukungan yang tepat, kamu bisa meninggalkan pekerjaan yang merugikan dengan kepala tegak dan kondisi mental yang lebih sehat.












