Berita

PLN Manfaatkan 5.132 Ton Biomassa dalam Proses Co-Firing PLTU

32
×

PLN Manfaatkan 5.132 Ton Biomassa dalam Proses Co-Firing PLTU

Sebarkan artikel ini

Lombokprime.com – PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTB terus mendorong penerapan teknologi co-Firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai langkah strategis untuk mendukung pengurangan emisi. Hal ini tentunya merupakan salah satu upaya PLN dalam mendukung pencapaian Net Zero Emission tahun 2050 di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTB, Sudjarwo menjelaskan program co-firing ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk memperluas penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Pemanfaatan biomassa dan limbah organik sebagai sumber energi, selain mampu menekan emisi, juga akan berdampak pada terciptanya ekonomi sirkular di masyarakat.

“Realisasi implementasi cofiring PLTU NTB yaitu PLTU Jeranjang dan PLTU Sumbawa saat ini cukup besar. Di tahun 2023, tercatat hingga bulan Juni, pemakaian biomassa tercatat mencapai 5.132 ton dengan produksi energi yang dihasilkan sebesar 3.417,74 MWh” ungkap Djarwo.

Baca Juga  Polsek Sekotong Tingkatkan Keamanan dengan Patroli Dialogis di Lombok Barat

PLTU Jeranjang dengan kapasitas 3×25 MW, yang merupakan backbone utama Sistem Kelistrikan Lombok sendiri mampu menghasilkan energi sebesar 2.495 MWH dengan pemakaian 3.183 ton biomassa. Sedangkan untuk PLTU Sumbawa Barat yang berkapasitas 2×7 MW memproduksi 1.022 MWH dengan penggunaan bahan 1.948 ton biomassa.

Adapun jenis biomassa yang digunakan dalam proses co-firing di NTB adalah berupa sampah yang telah diolah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), sekam padi, serbuk kayu dan juga serpihan atau potongan kayu (woodchip).

Produksi SRF dari sampah, dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebun Kongok, Lombok Barat. Berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, PLN terus berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan Co-Firing dengan melakukan upscaling TPA Kebon Kongok di Lombok Barat agar produksi bisa lebih meningkat.

Baca Juga  Polres Lombok Barat Menandai Kesiapan dengan Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Rinjani 2023

Untuk sekam padi dan serbuk kayu, PLN menggandeng para pelaku industri dalam proses penyediaannya. Sedangkan untuk woodchip, PLN juga bekerjasama dengan para pengusaha untuk memanfaatkan kayu yang tidak terpakai seperti ranting, dahan, dan batang untuk dicacah menjadi woodchip.

Djarwo juga terus mengajak masyarakat, mitra industri, lembaga terkait dan seluruh stakeholder untuk mendukung penggunaan EBT dan mengambil langkah-langkah yang berkelanjutan dalam penggunaan energi sehari-hari.

“PLN tetap berkomitmen untuk memberikan pasokan energi yang andal, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Melalui inovasi dan penggunaan teknologi terkini, PLN terus berupaya menjadi agen perubahan dalam sektor energi, menjaga lingkungan, dan mendorong pertumbuhan secara terus menerus,” jelas Djarwo.

Baca Juga  Tegas , Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tak Naik, PLN Siap Dorong Ekonomi dengan Listrik Andal

Teknologi Co-Firing merupakan sebuah metode di mana bahan bakar alternatif, seperti biomassa atau limbah organik, digunakan bersama dengan bahan bakar fosil konvensional, seperti batu bara, dalam proses pembakaran di PLTU. Dengan menerapkan teknologi ini, PLN berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *