lombokprime.com – Laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren yang tidak hanya membaik, tetapi juga semakin berkualitas dan berdaya tahan.
Perbaikan tersebut penting dicermati secara lebih mendalam, karena tidak sekadar mencerminkan kenaikan angka pertumbuhan semata, melainkan juga mengindikasikan terjadinya transformasi struktur ekonomi daerah menuju basis yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, indikator makro seperti pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga memang penting, namun dinamika sektor riil—khususnya mobilitas manusia dan barang—seringkali menjadi cerminan paling nyata dari geliat ekonomi yang sesungguhnya.
Salah satu indikator yang paling representatif dalam membaca dinamika tersebut adalah sektor transportasi udara. Kinerja Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok memberikan gambaran konkret mengenai akselerasi aktivitas ekonomi NTB.
Selama triwulan I (Januari–Maret) 2026, jumlah penumpang di bandara ini tercatat mencapai 628.889 orang, meningkat signifikan sebesar 24,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Angka tersebut bukan sekadar statistik transportasi, melainkan refleksi dari meningkatnya mobilitas ekonomi, baik yang didorong oleh sektor pariwisata, perdagangan, maupun aktivitas bisnis lainnya.
Kenaikan trafik ini didominasi oleh rute-rute strategis yang menghubungkan NTB dengan pusat-pusat ekonomi nasional dan regional, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Kuala Lumpur, serta Yogyakarta.
Dominasi rute-rute ini menunjukkan bahwa NTB semakin terkoneksi dengan simpul-simpul utama perekonomian, baik domestik maupun internasional. Konektivitas ini menjadi fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, karena mempercepat arus barang, jasa, investasi, serta pergerakan tenaga kerja dan wisatawan.
Namun, yang lebih menarik untuk dicermati adalah bahwa perbaikan ekonomi NTB tidak semata-mata bertumpu pada sektor-sektor besar seperti pertambangan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menunjukkan bahwa jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan bahkan 13,7 persen secara tahunan.
Itu adalah angka yang sangat impresif dan memberikan pesan penting bahwa fondasi ekonomi NTB sesungguhnya berada pada sektor non-tambang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sektor-sektor seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan non-tambang, serta konsumsi rumah tangga terbukti menjadi motor utama pertumbuhan.
Hal itu sekaligus menegaskan bahwa perlambatan yang sempat terjadi pada tahun 2025 bukanlah akibat melemahnya ekonomi rakyat, melainkan lebih disebabkan oleh fase transisi dalam sektor tambang dan industri pengolahan.
Dengan kata lain, ekonomi NTB sedang mengalami proses rebalancing—bergeser dari ketergantungan pada sektor ekstraktif menuju struktur yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Dalam perspektif teori ekonomi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan penting. Pertama, dalam kerangka teori pertumbuhan klasik yang dipelopori oleh Adam Smith, pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh perluasan pasar (extent of the market).
Peningkatan konektivitas melalui BIZAM secara langsung memperluas pasar bagi produk-produk NTB, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ketika pasar meluas, maka pelaku ekonomi akan terdorong untuk meningkatkan spesialisasi dan efisiensi, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan output.






