Kedua, dalam teori pertumbuhan neoklasik yang dikembangkan oleh Robert Solow, infrastruktur fisik seperti bandara merupakan bagian dari akumulasi modal yang sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Infrastruktur yang baik tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menurunkan biaya transaksi dan distribusi. Dalam konteks NTB, optimalisasi fungsi BIZAM menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur telah memberikan hasil nyata dalam bentuk peningkatan aktivitas ekonomi.
Ketiga, melalui pendekatan growth pole theory dari Francois Perroux, bandara dapat dilihat sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) yang memiliki efek pengganda terhadap wilayah sekitarnya.
BIZAM tidak hanya berfungsi sebagai tempat keluar-masuk penumpang, tetapi juga sebagai katalis bagi berkembangnya sektor-sektor lain seperti pariwisata, perhotelan, logistik, dan UMKM. Ketika satu pusat pertumbuhan berkembang, maka aktivitas ekonomi di sekitarnya akan ikut terdorong secara simultan.
Keempat, dalam perspektif teori Keynesian yang dipelopori oleh John Maynard Keynes, peningkatan aktivitas ekonomi akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luas.
Setiap peningkatan jumlah penumpang yang datang ke NTB akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai barang dan jasa, mulai dari transportasi lokal, akomodasi, makanan dan minuman, hingga produk-produk ekonomi kreatif. Dampak berantai ini pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat daya beli.
Jika dikaitkan dengan data BPS, maka terlihat bahwa efek pengganda ini benar-benar terjadi di NTB. Kinerja sektor non-tambang yang kuat menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas.
Ini adalah indikasi bahwa pertumbuhan yang terjadi bersifat inklusif, tidak hanya dinikmati oleh sektor tertentu, tetapi juga dirasakan oleh pelaku ekonomi kecil dan menengah.
Dengan demikian, kombinasi antara peningkatan konektivitas melalui BIZAM dan kuatnya kinerja sektor non-tambang menunjukkan bahwa struktur ekonomi NTB semakin sehat dan resilien.
Transformasi ini sangat penting dalam jangka panjang, karena ketergantungan yang berlebihan pada sektor ekstraktif seperti pertambangan seringkali membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Ke depan, tantangan yang perlu dihadapi adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ini sekaligus memperkuat kualitasnya. Penguatan sektor pertanian berbasis nilai tambah, pengembangan industri pengolahan, serta peningkatan kapasitas UMKM menjadi kunci penting dalam memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB tetap berkelanjutan.
Selain itu, optimalisasi konektivitas dan penguatan ekosistem pariwisata juga perlu terus didorong agar efek pengganda ekonomi dapat semakin luas dirasakan.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di NTB saat ini merupakan contoh nyata bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak harus selalu bergantung pada sektor besar seperti pertambangan. Justru, ketika sektor-sektor berbasis masyarakat mampu tumbuh secara solid, maka fondasi ekonomi akan menjadi lebih kokoh.
Dalam konteks ini, NTB sedang berada pada jalur yang tepat menuju transformasi ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di kawasan timur Indonesia.
*Penulis adalah Guru besar Ekonomi Syariah FEBI UIN Mataram






