Mataram (lombokprime.com) : – Sebagai Upaya Pencegahan ( Preventif ) dan Menetralisir Pemikiran radikalisme Bagi Generasi Muda, diperlukan Literasi Digital yang Kuat dan Pendidikan yang Inklusif, untuk menangkal Hoaks yang berpotensi memecah belah, dapat dihentikan sejak dini melalui kolaborasi antara Pemerintah daerah, Lembaga Pendidikan, Lintas Agama dan Aparat Penegak Hukum.
Universitas Islam Negeri UIN Mataram, melalui Pusat Moderasi Beragama LP2M terus melakukan upaya preventif dalam mencegah munculnya dan tersebarnya paham intoleran, radikalisme bagi generasi muda di lingkungan kampus dan lembaga pendidikan. Salah satunya dengan menyelenggarakan Diskusi ruang yang menyejukkan: Melalui kegiatan “Ngopi Lintas Iman” dengan tema “Merawat Solidaritas Iman Menuju Solidaritas Kemanusiaan”, yang digelar di Gedung Research Center Kampus II UIN Mataram, sebagai komitmen moderasi merawat harmoni sosial dan memperkuat relasi antarumat beragama.
Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun yang membuka langsung Diskusi ini dalam sambutannya menekankan, bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi pusat penguatan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi dan moderasi beragama.
Menurutnya, dialog lintas iman yang berlangsung dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh semangat kebersamaan lintas iman ini merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

Sambutan berikutnya disampaikan ketua LP2M Prof. Dr. Kadri yang menegaskan, bahwa solidaritas lintas iman tidak cukup berhenti pada simbol toleransi, tetapi harus diwujudkan dalam aksi sosial dan kepedulian nyata terhadap persoalan-persoalan masyarakat.
Dalam diskusi ini tampak hadir juga, Prof. Dr. H. Ahmad Asyari bersama sejumlah pimpinan pusat studi dan lembaga di lingkungan LP2M UIN Mataram, di antaranya Kepala Pusat Pengabdian, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak, Kepala Pusat Publikasi, Kepala Pusat Penelitian, Kepala International Office, serta Ketua Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan (PUSDEK) UIN Mataram.
Suasana dialog semakin hidup, dengan kehadiran para tokoh Kristen NTB, seperti Pdt. Simon Simanjuntak, Pdt. Deny Rembet, serta Pdt. Suwardi bersama para pendeta lainnya. Dimana kehadiran mereka memperlihatkan bahwa persaudaraan lintas iman bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang terus hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram Apipuddin mengungkapkan, forum lintas iman semacam ini perlu terus dirawat dan diselenggarakan, dengan prinsip Sering, Saling dan sharing secara berkelanjutan, sebagai ruang saling mengenal, saling mendengar, dan saling berbagi pengalaman.
Menurutnya, dunia digital yang berkembang pesat saat ini, banyak informasi yang tidak produktif untuk keberlangsungan kerukunan, toleransi umat beragama, sehingga tujuan Diskusi “Ngopi Lintas Iman” ini, untuk menangkal narasi-narasi radikalisme dan harus sering di gaungkan melalui media sosial, karena semakin sering digaungkan akan menjadi pembelajaran melalui digital bagi generasi muda baik di kampus maupun lembaga pendidikan lainnya.
“Dunia digital kita ini kan sangat berkembang dahsyat, informasi – informasinya kita anggap informasi yang tidak produktif untuk keberlangsungan perdamaian kita, kerukunan dan toleransi kita, maka salah satu hal yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah, untuk mengembangkan dan menangkal narasi – narasi kontra radikalisme, kontra extrimisme melalui media sosial, karena semakin sering gaungkan di forum-forum ngopi seperti ini, akan menjadi pembelajaran melalui dunia digital, adik-adik kita khususnya termasuk di lembaga pendidikan, “jelasnya.






