Dari luar, keputusan untuk bertahan dalam hubungan toxic sering terlihat tidak masuk akal. Perlakuan kasar, manipulasi, dan kata-kata yang merendahkan tampak jelas sebagai tanda bahaya. Namun, banyak wanita tetap tinggal, bahkan selama bertahun-tahun. Alasannya jarang sesederhana kurangnya keberanian. Di balik keputusan itu ada mekanisme emosional yang kompleks dan sering kali tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.
Memahami alasan emosional ini penting, bukan untuk menyalahkan korban, melainkan untuk membantu siapa pun yang sedang berada dalam situasi serupa, atau mendampingi orang terdekat yang mengalaminya.
Ikatan Trauma yang Terbentuk Perlahan
Salah satu konsep yang paling sering dibahas psikolog adalah trauma bonding, atau ikatan trauma. Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog Donald Dutton dan Susan Painter pada 1981 lewat penelitian tentang hubungan antara korban dan pelaku kekerasan. Dalam ikatan ini, korban justru merasa terikat secara emosional kepada pelakunya.
Ikatan tersebut biasanya tumbuh dari siklus yang berulang. Pasangan toksik bisa sangat hangat dan penuh perhatian di satu waktu, lalu dingin, menghukum, atau menyakiti di waktu lain. Pola naik-turun ini membuat otak terus mencari momen manis yang pernah ada, sehingga korban merasa harus bertahan demi kembali ke fase yang lebih baik.
Penguatan Acak yang Membuat Sulit Berhenti
Dalam psikologi perilaku, ada prinsip yang disebut intermittent reinforcement atau penguatan intermiten. Prinsip ini dikenal dari eksperimen B.F. Skinner. Hadiah yang datang secara tidak terduga justru membuat seseorang lebih gigih menunggunya dibanding hadiah yang selalu pasti.
Dalam hubungan toksik, bentuk “hadiah” itu bisa berupa permintaan maaf setelah pertengkaran hebat, pujian yang muncul setelah berhari-hari diabaikan, atau momen kebersamaan yang terasa seperti janji baru. Karena datangnya tidak menentu, harapan terus hidup. Korban berpikir, “Kalau aku sabar sedikit lagi, dia pasti berubah.”
Manipulasi yang Membuat Diri Sendiri Diragukan
Pasangan toksik sering memakai manipulasi emosional, termasuk gaslighting, yaitu membuat korban meragukan ingatan, perasaan, dan penilaiannya sendiri. Kalimat seperti “kamu terlalu sensitif” atau “itu tidak pernah terjadi” bisa perlahan mengikis kepercayaan diri.
Ketika seseorang terus-menerus diyakinkan bahwa dirinya yang salah, ia cenderung kehilangan pegangan untuk menilai situasi dengan objektif. Akibatnya, keputusan untuk pergi terasa seperti mustahil karena korban sendiri mulai percaya bahwa masalahnya ada pada dirinya.
Rasa Takut dan Cemas yang Mengendalikan
Rasa takut memainkan peran besar. Sebagian korban takut akan ancaman, baik ancaman kekerasan fisik maupun ancaman bunuh diri dari pasangan yang sering dijadikan alat kontrol. Ada pula ketakutan akan kesepian, takut tidak dicintai lagi, atau takut tidak mampu hidup mandiri.
Kecemasan ini sering diperkuat oleh pandangan bahwa mengakhiri hubungan berarti gagal. Ketika ketakutan menjadi lebih besar daripada rasa sakit yang dialami, bertahan terasa seperti pilihan yang lebih aman, meski sebenarnya merusak.
Harga Diri yang Terkikis Perlahan
Pasangan toksik sering membuat korban merasa kecil, tidak berharga, dan tidak layak mendapat cinta yang lebih baik. Kondisi ini membuat seseorang sulit membayangkan dirinya bisa menemukan hubungan yang sehat.
Harga diri yang rendah juga membuat korban merasa bahwa perlakuan buruk adalah sesuatu yang “pantas” diterima. Pola ini kerap berakar dari pengalaman masa kecil, seperti tumbuh dalam keluarga yang penuh konflik atau mengalami penolakan emosional sejak dini. Dalam kondisi seperti ini, hubungan yang menyakitkan bisa terasa akrab dan dianggap normal.
Rasa Bersalah dan Keinginan Menyelamatkan
Banyak wanita merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan pasangannya. Mereka berpikir bahwa jika mereka cukup pengertian, cukup sabar, atau cukup berusaha, pasangan akan berubah. Keyakinan ini membuat korban terus berkorban, sementara pasangan tidak menunjukkan perubahan berarti.
Perasaan bersalah juga muncul ketika korban membayangkan meninggalkan pasangan. Mereka khawatir dianggap egois atau tidak setia, padahal dirinya sendiri sudah berada dalam kondisi tertekan.
Tekanan Sosial dan Lingkungan
Faktor emosional juga tidak bisa dilepaskan dari lingkungan. Tekanan keluarga, pandangan masyarakat tentang pernikahan, serta stigma terhadap perempuan yang bercerai atau berpisah bisa membuat seseorang memilih bertahan. Di sisi lain, pasangan toksik kadang berhasil membangun citra baik di depan orang lain, sehingga korban merasa sulit mendapatkan dukungan.
Kondisi ini membuat korban merasa sendirian. Ketika tidak ada orang yang dipercaya untuk bercerita, isolasi emosional semakin dalam dan pola toksik sulit diputus.
Tanda Bahwa Sudah Saatnya Mencari Bantuan
Mengenali pola ini adalah langkah awal. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain merasa takut berbicara dengan pasangan, sering disalahkan atas hal yang bukan kesalahan, kehilangan kontak dengan teman dan keluarga, serta merasa cemas atau tidak berdaya hampir setiap waktu.
Jika kondisi tersebut sudah dirasakan, dukungan profesional sangat dianjurkan. Psikolog atau konselor dapat membantu memulihkan kepercayaan diri dan merencanakan langkah yang aman. Dalam situasi yang mengandung ancaman atau kekerasan, korban dapat menghubungi layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, atau segera mencari bantuan darurat terdekat.
Bertahan dalam hubungan toksik bukan semata soal kelemahan atau kebodohan. Ikatan trauma, penguatan acak, manipulasi emosional, rasa takut, harga diri yang tergerus, dan tekanan lingkungan saling berkaitan dan membuat seseorang sulit melihat jalan keluar. Memahami mekanisme ini membantu kita lebih empatik terhadap korban sekaligus memberi dasar untuk mengambil langkah yang lebih sehat. Keputusan untuk pergi memang tidak selalu mudah, tetapi mencari dukungan adalah langkah pertama yang berarti.












