Dulu, membesarkan anak sering kali disederhanakan menjadi dua hal utama: anak diberi makan sampai kenyang dan disekolahkan agar bisa cari kerja. Urusan mental dan emosional? Sering kali dianggap nomor kesekian, bahkan diabaikan sepenuhnya.
Generasi orang tua zaman dahulu—yang sebagian besar dibesarkan di bawah tekanan sosial, ekonomi yang belum stabil, atau pola asuh militeristik dari kakek-nenek kita—mewariskan metode mendidik yang tanpa disadari membawa luka batin mendalam. Istilah kerennya saat ini adalah generational trauma atau trauma lintas generasi.
Meskipun niat awal orang tua zaman dulu adalah membentuk anak agar tangguh menghadapi kerasnya dunia, praktiknya justru sering kali melahirkan mentalitas yang rapuh. Mari membedah bagaimana praktik pengasuhan tradisional ini secara perlahan menggerogoti kesehatan mental anak, hingga terbawa sampai mereka dewasa.
Menyamakan Kekerasan Fisik dan Verbal dengan “Disiplin”
Bagi orang tua zaman dulu, teriakan keras, bentakan, cubitan, hingga pukulan menggunakan tangan kosong atau benda seperti sapu ijuk adalah hal yang lumrah. Narasi yang selalu diulang adalah, “Ini demi kebaikanmu,” atau “Biar kamu kapok dan tidak mengulangi kesalahan.”
Dalam psikologi modern, metode ini jelas masuk dalam kategori kekerasan fisik dan emosional (abuse). Alih-alih memahami esensi dari kesalahan yang diperbuat, anak justru belajar ketakutan. Otak anak merekam bahwa otoritas atau orang yang lebih tua diasosiasikan dengan ancaman dan bahaya.
Dampaknya baru terlihat ketika anak tumbuh dewasa. Mereka yang dibesarkan dengan kekerasan verbal dan fisik cenderung menjadi pribadi yang penakut, mudah cemas, atau justru tumbuh menjadi sosok yang agresif dan reaktif. Saat menghadapi konflik di tempat kerja atau dalam hubungan percintaan, mereka kerap menggunakan kemarahan atau intimidasi sebagai mekanisme pertahanan diri, persis seperti apa yang mereka saksikan di rumah masa kecil dulu.
Budaya Membandingkan Anak: Racun Bernama “Anak Tetangga”
“Lihat tuh anak Bu Lurah, rangking satu terus dan rajin bantu orang tua. Kamu kok cuma bisa main game saja?”
Kalimat di atas barangkali adalah kalimat paling klise yang pernah didengar oleh generasi milenial dan Gen Z dari orang tua mereka. Orang tua zaman dulu percaya bahwa membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain akan memicu motivasi mereka untuk bangkit dan berprestasi.
Faktanya, riset psikologi menunjukkan hasil yang sebaliknya. Membandingkan anak justru menghancurkan konsep diri dan harga diri (self-esteem) mereka. Anak merasa bahwa diri mereka tidak pernah cukup di mata orang tua. Kasih sayang orang tua terasa bersyarat—hanya diberikan jika mereka berprestasi atau memenuhi ekspektasi sosial tertentu.
Akibatnya, saat dewasa, anak-anak ini sering menjadi people pleaser (selalu ingin menyenangkan orang lain), perfeksionis yang tersiksa oleh standar tinggi buatannya sendiri, dan mengalami sindrom penipu (impostor syndrome). Mereka merasa setiap pencapaian yang diraih tidak pernah cukup berarti karena bayang-bayang standar orang tua selalu menghantui.
Bungkam Suara Anak: “Anak Kecil Jangan Ikut Campur”
Dalam struktur keluarga tradisional, posisi anak sangat subordinat. Ada sebuah garis demarkasi yang jelas: orang tua selalu benar, dan anak wajib patuh tanpa tapi. Ketika anak mencoba menyampaikan pendapat, membela diri, atau bahkan sekadar menangis karena merasa tidak adil, respons yang kerap muncul adalah pembungkaman.
Kalimat seperti “Anak kecil tahu apa?”, “Udah, bantah aja terus!”, atau “Pamali membentak orang tua” membuat anak belajar untuk memendam emosi mereka rapat-rapat. Mereka menyimpulkan bahwa perasaan dan suara mereka tidak penting.
Pola asuh merusak ini melahirkan generasi dewasa yang kesulitan mengenali emosi mereka sendiri (alexithymia). Ketika mereka sedih, marah, atau kecewa, mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya secara sehat. Akibatnya, emosi tersebut menumpuk menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dalam bentuk depresi, kecemasan kronis, atau pelarian ke hal-hal negatif.
Minim Validasi Emosi dan Menyepelekan Masalah Anak
Anak-anak zaman dulu jarang mendapatkan validasi atas kesedihan atau kekecewaan yang mereka rasakan. Ketika anak menangis karena mainannya rusak atau sedih karena dijauhi teman di sekolah, respons orang tua sering kali meremehkan.
“Ah, gitu saja nangis. Cemen banget!” atau “Belum seberapa itu susahnya dibanding masa kecil bapak dulu.”
Alih-alih mendapatkan pelukan dan empati, anak justru merasa bahwa masalah yang mereka hadapi adalah hal yang sepele dan konyol. Orang tua gagal memahami bahwa bagi ukuran anak-anak, kehilangan mainan atau masalah di sekolah adalah hal yang besar bagi dunia mereka.
Ketika anak terbiasa mendapati emosinya diabaikan, mereka tumbuh menjadi individu yang enggan mencari bantuan saat menghadapi masalah berat di kemudian hari. Mereka merasa beban hidupnya tidak akan diindahkan oleh orang lain, sehingga memilih untuk memendam semuanya sendiri (internalizing problems).
Beban Parentifikasi: Memaksa Anak Menjadi Orang Tua bagi Orang Lain
Pola asuh tradisional juga kerap melanggar batas peran dalam keluarga melalui praktik yang disebut parentification. Ini terjadi ketika anak—terutama anak sulung—dibebani tanggung jawab emosional atau finansial yang seharusnya menjadi tanggungan orang tua.
Anak sulung sering kali dipaksa untuk langsung menjadi dewasa, mengurus adik-adiknya, ikut memikirkan kesulitan finansial keluarga, bahkan menjadi tempat curhat bagi masalah rumah tangga orang tua mereka.
Hilangnya masa kecil ini membuat mereka kehilangan fase eksplorasi dan bermain yang krusial bagi perkembangan mental. Saat dewasa, mereka kerap merasa kelelahan kronis (burnout), memiliki rasa tanggung jawab yang berlebihan atas kebahagiaan orang lain, dan merasa bersuara atau bersenang-senang adalah sebuah bentuk dosa.
Memutus Rantai “Pola Asuh Merusak” di Era Modern
Menyadari bahwa pola pengasuhan tradisional sarat akan praktik pola asuh merusak bukanlah bentuk tindakan durhaka kepada orang tua. Generasi terdahulu mendidik kita berdasarkan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka miliki pada masa itu. Mereka memberikan apa yang mereka punya, meski terkadang bentuknya adalah luka.
Namun, sebagai generasi saat ini, kita memiliki akses informasi, literasi psikologi, dan kesadaran yang jauh lebih baik. Memutus rantai trauma lintas generasi adalah tugas krusial agar pola-pola toksik tersebut tidak kembali diwariskan kepada anak cucu kita.
Kunci utamanya terletak pada keberanian untuk mendengar, memvalidasi perasaan anak, menerapkan disiplin tanpa kekerasan, serta mencintai anak tanpa syarat. Sebab pada akhirnya, tugas terbesar orang tua bukan sekadar mencetak anak yang penurut dan sukses secara materi, melainkan melahirkan manusia-manusia yang utuh secara mental, bahagia, dan siap menghadapi dunia dengan penuh rasa percaya diri.












