Hampir setiap orang tua pernah berada di titik lelah yang sama. Anak menolak makan tanpa alasan, terus-menerus bertanya “kenapa” hingga kesabaran habis, atau tiba-tiba membantah setiap perintah. Dalam situasi seperti itu, kata “anak menyebalkan” sering terlontar, baik dalam hati maupun di obrolan dengan pasangan atau teman.
Namun, sejumlah ahli perkembangan anak menilai banyak perilaku yang tampak menjengkelkan sebenarnya merupakan bagian normal dari tumbuh kembang. Di balik sikap yang membuat orang tua frustrasi, sering kali tersimpan kemampuan baru yang sedang dilatih anak. Memahami latar belakang perilaku tersebut dapat membantu orang tua merespons dengan lebih tenang dan tepat.
Mengapa Anak Sering Berkata “Tidak”?
Kata “tidak” menjadi salah satu kosakata favorit anak usia dua hingga tiga tahun. Fase ini kerap disebut sebagai “terrible twos”, meski istilah tersebut sebenarnya bersifat populer, bukan diagnosis medis.
Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, pada rentang usia sekitar 1,5 hingga 3 tahun, anak sedang berada pada tahap pencarian otonomi. Mereka mulai menyadari bahwa dirinya terpisah dari orang tua dan memiliki kehendak sendiri. Penolakan menjadi cara anak menguji sejauh mana ia bisa memengaruhi lingkungannya.
Jadi, ketika anak menolak memakai baju pilihan ibunya, itu bukan semata-mata pembangkangan. Anak sedang belajar bahwa ia punya suara dan pilihan. Tugas orang tua adalah memberi ruang untuk memilih dalam batas yang aman, misalnya dengan bertanya, “Mau pakai baju merah atau biru?” Cara ini membuat anak merasa dihargai tanpa kehilangan arah.
Pertanyaan “Kenapa” yang Tak Ada Habisnya
Rentetan pertanyaan “kenapa” sering membuat orang tua kehabisan jawaban. Padahal, perilaku ini menandakan rasa ingin tahu yang sehat dan perkembangan kognitif yang sedang berjalan.
Anak yang bertanya terus-menerus sedang membangun pemahaman tentang sebab dan akibat. Mereka mencoba menghubungkan potongan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Kemampuan berpikir kritis semacam ini merupakan fondasi penting untuk belajar di sekolah kelak.
Orang tua bisa menanggapinya dengan menjawab sederhana, atau mengajak anak mencari jawabannya bersama, misalnya dengan membuka buku bergambar atau mengamati sesuatu di sekitar rumah. Pendekatan ini mengubah rasa jengkel menjadi momen belajar yang menyenangkan.
Berantakan dan Tidak Mau Dirapikan
Mainan berserakan, pakaian bertebaran, dan tangan penuh noda makanan sering dianggap sebagai tanda anak tidak disiplin. Namun, bagi anak, aktivitas tersebut adalah cara utama mereka mengenal dunia.
Melalui sentuhan, memindahkan benda, dan mencoba berbagai bentuk permainan, anak melatih koordinasi motorik, kemampuan memecahkan masalah, serta pemahaman tentang ruang dan warna. Eksplorasi sensorik seperti ini penting bagi perkembangan otak anak.
Meski begitu, eksplorasi tetap perlu diarahkan. Membiasakan rutinitas merapikan mainan bersama, misalnya dengan lagu atau permainan kecil, dapat menumbuhkan tanggung jawab tanpa memadamkan rasa ingin tahu.
Rewel Saat Ditinggal Orang Tua
Anak yang menangis ketika ditinggal ke kantor atau sekolah kerap dianggap manja. Padahal, reaksi ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang kuat dengan pengasuh utamanya.
Dalam teori kelekatan (attachment) yang dikembangkan John Bowlby, hubungan yang aman dengan figur pengasuh menjadi dasar bagi anak untuk merasa nyaman menjelajah dunia. Anak yang merasa aman cenderung lebih mudah beradaptasi ketika berpisah, karena ia yakin orang tuanya akan kembali.
Sebaliknya, ketakutan saat berpisah bisa diredakan dengan ritual perpisahan yang konsisten, seperti pelukan singkat, kalimat pamit yang sama setiap hari, dan janji yang bisa ditepati. Konsistensi membuat anak belajar bahwa perpisahan itu sementara.
Tantrum: Ledakan Emosi yang Sebenarnya Belajar Mengendalikan Diri
Tantrum atau ledakan emosi sering menjadi momen paling menguras tenaga bagi orang tua. Anak bisa menangis keras, berguling di lantai, atau melempar barang hanya karena permintaannya tidak dipenuhi.
Perilaku ini umumnya berkaitan dengan keterbatasan anak dalam mengelola emosi. Bagian otak yang bertugas mengatur impuls dan emosi, yang sering disebut fungsi eksekutif, masih berkembang pesat pada masa kanak-kanak. Anak belum memiliki kosakata atau kemampuan yang cukup untuk menjelaskan perasaan frustrasinya, sehingga emosi itu meluap dalam bentuk tangisan atau amarah.
Tantrum tidak selalu berarti kegagalan pengasuhan. Justru, cara orang tua menenangkan anak menjadi pelajaran berharga. Saat orang tua tetap tenang, memberi nama pada perasaan anak, misalnya “Kamu kesal ya karena mainannya diambil”, lalu membantu anak menemukan jalan keluar, anak perlahan belajar mengelola emosinya sendiri.
Kapan Perlu Lebih Waspada?
Meski sebagian besar perilaku sulit adalah bagian normal tumbuh kembang, orang tua tetap perlu memperhatikan tanda-tanda tertentu. Jika tantrum sangat sering terjadi dengan intensitas yang tidak wajar, anak tampak sulit berinteraksi dengan teman sebaya, atau perkembangan bicara dan motoriknya tertinggal dibanding anak seusianya, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan orang tua untuk memantau perkembangan anak secara berkala melalui pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan. Deteksi dini membantu anak mendapatkan dukungan yang tepat sejak awal.
Mengubah Sudut Pandang Orang Tua
Pada akhirnya, label “anak menyebalkan” lebih mencerminkan kelelahan dan tekanan yang dirasakan orang tua ketimbang kondisi anak itu sendiri. Ketika sudut pandang diubah, perilaku yang semula memicu emosi bisa dilihat sebagai tanda bahwa anak sedang tumbuh, berpikir, dan mencoba memahami dunianya.
Tentu, menjaga kesabaran setiap hari bukan perkara mudah. Orang tua juga manusia yang butuh istirahat dan dukungan. Berbagi tugas dengan pasangan, meminta bantuan keluarga, atau sekadar meluangkan waktu untuk diri sendiri dapat membantu menjaga kondisi emosi tetap stabil.
Setiap perilaku anak menyimpan pesan tentang kebutuhan dan perkembangannya. Dengan memahami alasan di baliknya, orang tua dapat merespons dengan lebih bijak, dan perlahan melihat “anak yang menyebalkan” sebagai anak yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.












