Bahaya Frugal Living Ekstrem: Hemat Boleh, tapi Jangan Sampai Mental Ikut Terkuras

Bahaya Frugal Living Ekstrem bagi Kesehatan Mental, Hemat Boleh, Tapi Jangan Sampai Menyiksa Diri

Tangan seseorang membuka dompet kulit cokelat yang sudah usang dan tampak kosong tanpa uang tunai.
Dompet yang kosong bukan akhir dunia, tapi jangan biarkan hati ikut kosong juga saat berhemat.

Gaya hidup hemat atau frugal living belakangan makin populer di Indonesia. Di media sosial, banyak orang membagikan cerita tentang berhenti belanja impulsif, memasak sendiri setiap hari, hingga menabung puluhan persen dari penghasilan. Tren ini sebenarnya positif, karena mengajarkan kita untuk lebih sadar terhadap uang. Masalahnya, ketika kehematan berubah menjadi aturan yang kaku dan tanpa kompromi, dampaknya bisa jauh lebih berat daripada sekadar kantong yang sedikit lebih longgar.

Pertanyaannya, sampai di mana batas hemat yang sehat? Dan apa saja risiko yang mengintai ketika batas itu terlewati?

Hemat Bukan Berarti Pelit

Sebelum membahas bahayanya, penting untuk meluruskan satu hal. Frugal living pada dasarnya adalah strategi mengelola uang secara bijak, bukan gaya hidup menderita. Penganutnya fokus pada nilai dari setiap pengeluaran. Karena itu, mereka tidak ragu membayar lebih untuk barang berkualitas yang awet atau untuk asuransi kesehatan, sebab mereka paham bahwa keputusan tersebut melindungi keuangan dalam jangka panjang.

Sebuah studi kualitatif tentang mahasiswa perantau yang dipublikasikan di Jurnal Pendidikan menemukan hal serupa. Mahasiswa memandang frugal living sebagai strategi keuangan yang cerdas, bukan kekikiran. Mereka memasak sendiri, mengurangi belanja konsumtif, dan menyisihkan tabungan untuk kebutuhan penting. Namun, penelitian yang sama juga mencatat bahwa ketika praktik ini dijalankan secara ekstrem, muncul dampak seperti gangguan kesehatan, tekanan psikologis, dan isolasi sosial.

Jadi, masalahnya bukan pada kehematan itu sendiri, melainkan pada garis yang mulai kabur antara hemat dan menyiksa diri.

Ketika Hemat Berubah Jadi Ketakutan

Salah satu risiko terbesar frugal living ekstrem adalah munculnya kecemasan terhadap uang. Ann Martin, Direktur Operasional CreditDonkey, menyebut banyak orang yang terlalu bersemangat berhemat justru menjadi takut mengeluarkan uang sama sekali. Kondisi ini sering disebut spending-phobic, yaitu rasa panik setiap kali harus membayar sesuatu, bahkan untuk kebutuhan yang sebenarnya wajar.

Kecemasan semacam ini sulit dikenali karena tampak seperti disiplin. Padahal, rasa was-was yang terus-menerus bisa menguras energi mental. Seseorang yang merasa bersalah setiap kali membeli obat atau membayar ongkos transportasi sebenarnya sedang berada dalam tekanan psikologis, meskipun dari luar terlihat rajin dan hemat.

Baca Juga:  Jangan Sepelehkan Kualitas Tidur Kalau Nggak Mau Otak Rusak!

Data menunjukkan bahwa kekhawatiran finansial memang berkaitan erat dengan kondisi mental. Survei Populix yang dikutip Kumparan mencatat bahwa faktor keuangan termasuk pemicu utama gangguan kesehatan mental responden di Indonesia. Di Inggris, sebuah survei dari Money and Mental Health Policy Institute terhadap 5.500 orang mengungkap bahwa 72 persen responden merasa masalah kesehatan mental memperburuk kondisi keuangan mereka. Hubungan ini berjalan dua arah, sehingga tekanan finansial yang berlebihan juga bisa memperburuk kesehatan mental.

Pertemanan dan Keluarga yang Ikut Terdampak

Dampak frugal living ekstrem tidak berhenti di dompet dan pikiran. Hubungan sosial juga bisa ikut retak. Janita Grift, pakar frugal living sekaligus pemilik Frugal Fun Finance, memberi contoh yang sederhana tetapi relevan: seseorang yang terus-menerus menolak ajakan makan malam dari teman bisa perlahan kehilangan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam jangka panjang, rasa terasing seperti ini justru dapat memicu kesepian dan kelelahan emosional.

Manusia adalah makhluk sosial. Momen berkumpul, merayakan ulang tahun, atau sekadar ngobrol santai bukan pemborosan. Momen-momen itu adalah bagian dari kesejahteraan yang sering luput dihitung dalam spreadsheet anggaran.

Dalam konteks Indonesia, tekanan ini terasa semakin nyata. Survei FWD yang dilakukan pada Oktober 2025 terhadap lebih dari 1.000 responden kelas menengah berusia 21 sampai 65 tahun menemukan bahwa 66 persen di antaranya mengalami stres finansial. Generasi Z disebut memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, pola hidup hemat yang tidak seimbang berpotensi memperbesar beban yang sudah ada.

Kesehatan Fisik Juga Taruhannya

Banyak orang mengira frugal living hanya soal mengurangi belanja barang. Padahal, pengurangan yang terlalu jauh bisa menyasar kesehatan. Beberapa contoh yang sering terjadi antara lain menunda pemeriksaan rutin ke dokter, menunda pengobatan karena merasa biayanya terlalu mahal, memilih makanan murah tetapi minim gizi, atau mengabaikan olahraga karena menganggap keanggotaan gym sebagai pemborosan.

Baca Juga:  Terjebak Kota Modern, Gen Z Pilih Slow Living Biar Waras?

Halodoc dalam ulasannya tentang frugal living juga menekankan bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari berhemat yang cerdas. Vaksinasi, makanan bergizi, dan konsultasi dini ke dokter saat ada keluhan justru menghemat biaya di kemudian hari. Keputusan menunda berobat demi menghemat sering kali berujung pada pengeluaran yang jauh lebih besar.

Hal ini sejalan dengan pandangan Carter Seuthe, CEO Credit Summit. Menurutnya, kehematan ekstrem umumnya sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Ketika seseorang akhirnya berhenti berhemat, sering kali ia justru terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan sebagai pelampiasan. Pola naik-turun seperti ini melelahkan secara mental dan juga merugikan keuangan.

Kisah Dokter yang Hidup Minimalis

Ada juga contoh dari luar negeri yang menarik untuk disimak. Seorang dokter asal Banting, Selangor, Malaysia, Amirah Alieya, bersama suaminya tinggal di sebuah ruangan berukuran sekitar 45 kaki persegi di dalam kliniknya. Mereka mandi di toilet klinik, memasak di pantry, dan membeli barang bekas. Menurut Amirah, gaya hidup ini justru membuatnya lebih tenang, dan alasan utamanya adalah kesehatan mental dan emosional.

Kisah ini memperlihatkan bahwa hidup sederhana bisa membawa kebahagiaan bagi sebagian orang. Namun, pelajaran pentingnya bukan pada ukuran ruangan. Yang membuat pilihan itu sehat adalah kesadaran bahwa keputusan tersebut diambil secara sadar, sesuai kebutuhan dan nilai pribadi, bukan karena tekanan, rasa takut, atau keharusan untuk tampil hemat di media sosial.

Cara Hemat yang Tetap Sehat

Lalu, bagaimana menerapkan frugal living tanpa kehilangan kewarasan? Kuncinya ada pada keseimbangan. Beberapa langkah berikut bisa menjadi pegangan.

Pertama, tentukan prioritas. Pisahkan pengeluaran yang benar-benar penting, seperti kesehatan, pendidikan, dan dana darurat, dari pengeluaran yang bisa dikurangi tanpa mengorbankan kualitas hidup.

Baca Juga:  Gak Siksa Diri! Begini Cara Jalani Frugal Living Biar Hoki

Kedua, sisihkan anggaran untuk hal-hal yang menyenangkan. Hobi, hiburan, dan kumpul bersama teman adalah bagian dari kebutuhan emosional. Mengalokasikannya secara terencana justru membuat kehematan lebih mudah dijalani.

Ketiga, jangan mengabaikan dana darurat dan asuransi kesehatan. Kedua hal ini bukan pemborosan, melainkan perlindungan dari risiko yang tidak bisa diprediksi.

Keempat, perhatikan sinyal dari tubuh dan pikiran. Jika berhemat mulai membuat tidur terganggu, sering cemas, atau menghindari semua aktivitas sosial, itu tanda bahwa gaya hidup perlu dievaluasi. Berbicara dengan psikolog atau konselor keuangan bisa menjadi langkah yang bijak. Beberapa ahli bahkan menyarankan agar orang tetap menabung secara wajar sebagai langkah pencegahan, sehingga kondisi mental tidak ikut runtuh ketika keuangan sedang sulit.

Hemat Itu Alat, Bukan Tujuan

Frugal living sejatinya adalah alat untuk mencapai kehidupan yang lebih tenang, bukan tujuan yang harus dikejar dengan segala cara. Uang seharusnya membantu kita hidup dengan lebih baik, bukan merampas kebahagiaan dan kedekatan dengan orang-orang terdekat.

Jadi, hemat boleh saja, bahkan dianjurkan. Namun, jangan sampai kehematan itu membuat mental terkuras, hubungan renggang, dan tubuh diabaikan. Hidup yang sehat secara finansial adalah hidup yang juga sehat secara emosional dan sosial. Jika keseimbangan itu hilang, sudah saatnya kita mengevaluasi ulang langkah yang diambil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *