Di tengah budaya pamer di media sosial, ada segmen masyarakat kaya yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak memamerkan tas bermerek di setiap unggahan, tidak sibuk menyebut harga jam tangan, dan tidak merasa perlu mengumumkan setiap liburan mewah. Gaya hidup seperti ini kini dikenal dengan sebutan quiet luxury, yaitu kemewahan yang tenang, halus, dan hanya bisa dikenali oleh mereka yang benar-benar memahami kualitas.
Fenomena ini menarik perhatian karena bertolak belakang dengan tren flexing yang marak beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya, seperti apa karakter orang-orang yang menjalani gaya hidup tersebut? Apa yang membedakan mereka dari orang kaya baru yang gemar pamer?
Apa Itu Quiet Luxury?
Quiet luxury merujuk pada gaya hidup yang menonjolkan kualitas bahan, keahlian pembuatan, dan kenyamanan tanpa logo besar atau simbol status yang mencolok. Pakaian yang dikenakan mungkin tampak sederhana di mata orang awam, tetapi harganya bisa sangat tinggi. Kain kasmir dengan serat halus, jahitan rapi tanpa cela, serta potongan yang tidak lekang oleh zaman menjadi ciri utamanya.
Istilah ini mulai ramai dibicarakan di industri mode dan media gaya hidup sekitar 2023. Banyak pengamat menyebut tren ini sebagai reaksi terhadap budaya logo mania yang sempat mendominasi dunia fashion selama bertahun-tahun. Ketika barang bermerek dengan logo besar menjadi terlalu umum, sebagian orang kaya justru beralih ke sesuatu yang lebih eksklusif karena tidak semua orang bisa mengenalinya.
Dari Layar Kaca ke Dunia Nyata
Popularitas quiet luxury tidak lepas dari pengaruh budaya pop. Serial televisi Succession yang tayang di HBO sering disebut sebagai salah satu contoh paling terkenal. Tokoh-tokoh keluarga konglomerat dalam serial itu berpenampilan rapi dengan busana berkualitas tinggi, tetapi tanpa aksesori yang berteriak meminta perhatian. Kostum dalam serial tersebut dinilai berhasil menggambarkan kekayaan yang tidak perlu diumumkan.
Di dunia nyata, beberapa rumah mode yang identik dengan pendekatan ini antara lain Loro Piana, Brunello Cucinelli, dan The Row. Merek-merek tersebut jarang memasang logo besar pada produknya. Konsumen yang membelinya biasanya adalah orang-orang yang mengenali kualitas dari sentuhan kain, detail jahitan, dan reputasi rumah mode itu sendiri.
Namun, quiet luxury sebenarnya lebih dari sekadar urusan busana. Ia mencerminkan cara berpikir dan pola hidup yang lebih luas. Di balik penampilan yang tenang, terdapat karakter tertentu yang terbentuk sejak kecil, terutama bagi mereka yang dibesarkan dalam keluarga dengan kekayaan turun-temurun.
Ciri Pertama: Tidak Membutuhkan Pengakuan
Ciri paling mencolok dari orang keturunan kaya yang menjaga gaya hidup quiet luxury adalah tidak haus validasi. Mereka tidak merasa perlu membuktikan diri melalui barang atau unggahan media sosial. Rasa aman secara sosial dan finansial sudah tertanam sejak lama, sehingga pengakuan dari orang lain tidak menjadi kebutuhan utama.
Sikap ini terlihat dari cara mereka berpakaian ke acara formal maupun santai. Mereka cukup nyaman dengan kemeja putih polos, blazer berpotongan pas, atau sweter kasmir yang sudah dipakai bertahun-tahun. Bagi mereka, status tidak perlu diumumkan karena sudah diakui secara alami di lingkungannya.
Ciri Kedua: Mengutamakan Kualitas di Atas Logo
Orang dengan karakter quiet luxury cenderung memilih barang yang awet dan bernilai jangka panjang ketimbang barang yang hanya populer sesaat. Mereka lebih peduli pada bahan, teknik pembuatan, dan kesesuaian dengan kebutuhan hidup. Sebuah tas kulit yang dirawat dengan baik bisa dipakai selama puluhan tahun, dan bagi mereka itu jauh lebih masuk akal dibanding membeli barang baru setiap musim.
Pola pikir ini juga membuat mereka lebih selektif. Sebelum membeli sesuatu, mereka biasanya bertanya apakah barang itu akan tetap relevan lima atau sepuluh tahun lagi. Pertanyaan sederhana ini sering membuat mereka menghindari pembelian impulsif yang menjadi jebakan banyak orang berpenghasilan tinggi.
Ciri Ketiga: Hemat Bicara soal Harta
Orang kaya yang benar-benar nyaman dengan kekayaannya biasanya tidak banyak membicarakan uang. Mereka jarang menyebut harga barang, nilai investasi, atau besarnya penghasilan dalam percakapan santai. Jika pun membahasnya, itu dilakukan secara wajar dan tidak untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk kesopanan sosial. Dalam banyak lingkungan keluarga kaya, membicarakan harta secara terbuka dinilai kurang elegan. Nilai yang dijunjung adalah menjaga perasaan orang lain dan menghindari kesan merendahkan.
Ciri Keempat: Disiplin Menabung dan Berinvestasi
Menariknya, banyak keturunan keluarga kaya justru dikenal sangat disiplin dalam mengelola uang. Mereka memahami bahwa kekayaan bisa habis jika tidak dijaga. Karena itu, sebagian besar dari mereka memiliki kebiasaan menabung, berinvestasi dalam jangka panjang, dan membagi aset ke berbagai instrumen.
Disiplin finansial ini juga tercermin dari gaya konsumsi mereka. Pengeluaran besar biasanya direncanakan dengan matang. Mereka tidak tergoda untuk membeli sesuatu hanya karena mampu. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara quiet luxury dan gaya hidup konsumtif yang sering ditampilkan di media sosial.
Ciri Kelima: Lebih Memilih Pengalaman daripada Barang
Dalam beberapa tahun terakhir, tren konsumsi kalangan kaya juga bergeser ke arah pengalaman. Perjalanan ke tempat yang tenang, makan malam bersama keluarga, atau kegiatan budaya seperti pameran seni dan konser musik klasik sering dianggap lebih bernilai dibanding koleksi barang. Pengalaman dinilai lebih personal dan tidak perlu dipamerkan untuk dihargai.
Orang dengan karakter ini juga cenderung menikmati waktu luang tanpa gangguan gawai. Mereka mungkin memilih liburan singkat ke vila di pegunungan atau pantai yang sepi, bukan destinasi yang ramai diunggah di media sosial. Kenikmatan yang mereka cari bersifat internal, bukan sekadar tontonan bagi orang lain.
Ciri Keenam: Rendah Hati dan Menghargai Proses
Karakter lain yang melekat pada gaya hidup quiet luxury adalah kerendahan hati. Banyak orang kaya generasi pertama harus bekerja keras untuk membangun usahanya, sementara generasi penerus cenderung diajarkan untuk tidak lupa dari mana kekayaan itu berasal. Nilai kerja keras, tanggung jawab, dan empati sering ditanamkan sejak dini.
Sikap rendah hati ini membuat mereka lebih mudah diterima di berbagai kalangan. Mereka bisa berbincang dengan pegawai, petani, maupun pengusaha kecil tanpa menunjukkan superioritas. Justru dari sikap inilah muncul kesan elegan yang sulit ditiru oleh mereka yang sekadar ingin tampil kaya.












