Pernikahan jangka panjang sering digambarkan sebagai perjalanan yang penuh tantangan, tetapi tidak semua tantangan sama. Ada masalah yang bisa diselesaikan berdua, dan ada pola perilaku yang justru makin merusak seiring waktu. Karena itu, keputusan dalam memilih pasangan pernikahan perlu dipikirkan matang sejak awal, jauh sebelum ikatan resmi terjadi.
Banyak orang terpesona oleh pesona, kemapanan, atau janji manis di masa pacaran. Namun, sejumlah pakar hubungan menilai bahwa karakter asli seseorang biasanya tampak lebih jelas ketika tekanan hidup datang, seperti konflik keluarga, masalah keuangan, atau perbedaan pendapat yang tajam. Berikut sejumlah perilaku yang layak diwaspadai sejak dini.
Kebiasaan Merendahkan Pasangan
Mengkritik sesekali adalah hal yang wajar dalam hubungan. Yang berbahaya adalah sikap meremehkan secara terus-menerus. Pria yang gemar mengejek penampilan, latar belakang keluarga, pekerjaan, atau pendapat pasangan biasanya sedang membangun ketimpangan kekuasaan dalam rumah tangga.
Psikolog pernikahan John Gottman, yang meneliti ribuan pasangan selama beberapa dekade, mengidentifikasi sikap merendahkan atau contempt sebagai salah satu indikator paling kuat yang dapat memprediksi keretakan hubungan. Dalam penelitiannya, sikap ini digambarkan sebagai salah satu “empat penunggang kuda” yang paling merusak keintiman, bersama kritik berlebihan, sikap defensif, dan membisu ketika konflik muncul.
Jika sejak pacaran seseorang sering membuat pasangannya merasa kecil, pernikahan biasanya tidak akan membuat keadaan membaik. Justru hal itu bisa berkembang menjadi rasa tidak berharga yang sulit dipulihkan.
Sulit Mengendalikan Emosi dan Amarah
Setiap orang pernah marah. Namun, cara seseorang mengekspresikan amarah menunjukkan kualitas dirinya. Pria yang mudah meledak, membanting barang, berteriak hebat, atau mengintimidasi ketika tidak setuju sedang memperlihatkan pola yang tidak sehat.
Perilaku ini sering dianggap “sifat temperamen” dan dimaklumi dengan alasan bahwa ia “memang begitu”. Padahal, kebiasaan tersebut cenderung memburuk jika tidak ada kemauan untuk berubah. Pasangan yang hidup dalam ketakutan akan merasa sulit terbuka, sulit mengambil keputusan, dan kehilangan rasa aman di rumah sendiri.
Perlu juga diwaspadai ancaman verbal, perilaku mengontrol, atau kekerasan fisik, sekecil apa pun bentuknya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar sepertiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan intim. Angka ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan isu jauh, melainkan risiko nyata yang bisa dicegah sejak tahap memilih pasangan.
Pengendalian dan Pembatasan Kehidupan Pasangan
Hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tetap menjadi diri sendiri. Sebaliknya, pria yang berusaha mengatur siapa saja yang boleh ditemui, membatasi penggunaan ponsel, mengontrol keuangan secara sepihak, atau melarang pasangan bekerja dan belajar, sedang menggerogoti kemandirian pasangannya.
Pola seperti ini sering kali dibungkus dengan alasan cinta, perlindungan, atau kekhawatiran berlebihan. Namun, dalam jangka panjang, pembatasan semacam itu dapat membuat pasangan terisolasi dari keluarga dan teman. Ketika pasangan sudah tidak memiliki jaringan dukungan, ia akan semakin sulit keluar dari situasi yang menyakitkan.
Tidak Bertanggung Jawab dan Sering Menyalahkan Orang Lain
Tanda lain yang tidak boleh diabaikan adalah kebiasaan menghindari tanggung jawab. Pria yang selalu menyalahkan orang lain atas kegagalannya, enggan mengakui kesalahan, atau menjadikan pasangan sebagai kambing hitam sedang menunjukkan kurangnya kedewasaan emosional.
Dalam pernikahan, masalah pasti akan muncul, mulai dari salah paham soal uang hingga perbedaan dalam mendidik anak. Pasangan yang bertanggung jawab mampu mengakui kekeliruan dan mencari solusi bersama. Sebaliknya, pasangan yang selalu berkelit akan membuat setiap persoalan berubah menjadi pertengkaran yang tidak pernah selesai.
Pola Ketidakjujuran dan Pengkhianatan Berulang
Kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Satu kebohongan kecil mungkin tampak sepele, tetapi kebiasaan berbohong secara berulang, menyembunyikan keuangan, atau melakukan perselingkuhan berkali-kali menunjukkan bahwa komitmen tidak menjadi prioritas utama.
Kepercayaan yang hancur sulit dibangun kembali, terutama jika pelakunya tidak menunjukkan penyesalan yang tulus dan perubahan nyata. Dalam pernikahan panjang, ketidakjujuran dapat menumpuk menjadi luka yang membuat pasangan terus waspada, bahkan ketika hubungan tampak tenang di permukaan.
Mengabaikan Peran dalam Keluarga
Pria yang tidak peduli pada kebutuhan emosional dan praktis keluarga juga patut dipertimbangkan dengan serius. Ketidakhadiran secara emosional, enggan berbagi beban rumah tangga, atau menolak terlibat dalam pengasuhan anak dapat membuat pasangan merasa kelelahan sendirian.
Keseimbangan peran bukan soal membagi tugas secara kaku, melainkan soal kesediaan saling mendukung. Pasangan yang baik akan hadir saat dibutuhkan, baik ketika sedang senang maupun saat menghadapi kesulitan.
Cara Bijak Menilai Calon Pasangan
Mengenali tanda-tanda tersebut membutuhkan waktu dan keberanian untuk melihat kenyataan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengamati cara calon pasangan memperlakukan orang lain, termasuk pelayan, keluarga, dan teman.
- Memperhatikan bagaimana ia merespons perbedaan pendapat dan kekecewaan.
- Berbicara terbuka tentang nilai, harapan, dan pengalaman masa lalu, termasuk hubungan sebelumnya.
- Melibatkan keluarga atau sahabat yang objektif untuk memberikan pandangan.
- Tidak terburu-buru mengambil keputusan besar ketika ada tanda-tanda yang mengganggu.
Jika ada keraguan yang terus muncul, jangan memaksakan diri hanya karena merasa sudah terlanjur dekat atau takut dianggap gagal. Mengakhiri hubungan yang tidak sehat sebelum menikah jauh lebih baik daripada bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan selama puluhan tahun.
Memilih pasangan adalah salah satu keputusan terpenting dalam hidup. Pria dengan perilaku merendahkan, mudah marah, mengontrol, tidak bertanggung jawab, atau tidak jujur berpotensi menghadirkan luka yang semakin dalam seiring berjalannya waktu. Mengenali pola-pola ini sejak awal bukan berarti mencurigai semua orang, melainkan menjaga diri agar pernikahan dibangun di atas rasa hormat, aman, dan saling percaya.












