Pertengkaran dengan pasangan hampir selalu meninggalkan rasa tidak nyaman. Namun, bagi pria, emosi yang muncul saat konflik sering kali tidak sesederhana kemarahan. Banyak pria merasa bingung dengan apa yang mereka rasakan, sehingga memilih diam, menarik diri, atau justru meledak. Memahami apa yang dirasakan pria ketika bertengkar bisa membantu pasangan membangun komunikasi yang lebih sehat.
Tubuh Bereaksi Lebih Dulu Sebelum Pikiran
Ketika konflik memanas, tubuh pria cenderung bereaksi lebih cepat daripada logika. Detak jantung meningkat, napas menjadi pendek, otot menegang, dan tubuh bersiap untuk “bertahan atau menghindar”. Mekanisme ini dikenal sebagai respons fight or flight yang diatur oleh sistem saraf dan hormon stres.
Peneliti hubungan dari Gottman Institute, John Gottman, menyebut kondisi ini sebagai emotional flooding atau banjir emosi. Saat tingkat stres fisiologis sudah terlalu tinggi, seseorang sulit berpikir jernih, mendengarkan dengan baik, atau menyusun kata secara tenang. Banyak pria merasa kewalahan pada fase ini, dan itu bukan semata-mata karena mereka tidak peduli.
Rasa Tertekan dan Ingin Lari dari Situasi
Dalam banyak kasus, pria merasa seperti sedang diadili. Tuntutan, keluhan, atau nada suara yang tinggi bisa terasa seperti serangan terhadap harga diri. Akibatnya, muncul keinginan kuat untuk segera mengakhiri percakapan.
Inilah alasan mengapa pola stonewalling, yaitu diam total dan menarik diri dari interaksi, sering muncul pada pria. Menurut penelitian Gottman, pria memang lebih cenderung melakukan stonewalling dibanding wanita ketika konflik meningkat. Bagi mereka, diam sering kali merupakan cara untuk menenangkan diri, bukan bentuk penolakan terhadap pasangan. Masalahnya, pasangan yang ditinggal diam bisa salah mengartikannya sebagai sikap acuh atau tidak peduli.
Rasa Bersalah yang Tidak Selalu Diucapkan
Tidak semua pria mengakui kesalahannya saat bertengkar, tetapi bukan berarti mereka tidak merasakan penyesalan. Di balik sikap defensif, sebagian pria sebenarnya dihantui rasa bersalah, terutama ketika mereka sadar telah menyakiti perasaan pasangan.
Rasa bersalah ini sering tertahan karena pria merasa harus tetap terlihat kuat atau benar. Ada juga yang khawatir mengakui kesalahan akan membuat mereka kehilangan kendali dalam hubungan. Padahal, pengakuan sederhana seperti “aku paham kamu kecewa” dapat meredakan ketegangan lebih cepat dibanding argumen panjang.
Merasa Tidak Dipahami
Salah satu perasaan paling dalam yang sering muncul adalah rasa tidak dipahami. Banyak pria merasa usahanya tidak dihargai, niat baiknya disalahartikan, atau keluhannya tidak pernah didengar secara utuh. Ketika merasa tidak dipahami, mereka cenderung membela diri dengan keras atau justru menyerah dan berhenti berusaha.
Perasaan ini juga berkaitan dengan tekanan sosial. Sejak kecil, banyak pria dibesarkan dengan pesan bahwa mereka harus mandiri dan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Ketika konflik rumah tangga muncul, mereka kerap merasa harus “menang” atau “menyelesaikan” masalah, padahal yang dibutuhkan pasangan mungkin hanya didengarkan.
Takut Kehilangan dan Kecemasan Tersembunyi
Di balik sikap dingin atau marah, sering kali tersimpan rasa takut. Pria bisa merasa cemas bahwa pertengkaran kecil akan berujung pada perpisahan, atau khawatir kehilangan rasa hormat dari pasangan. Kecemasan ini membuat mereka terlihat reaktif, meski sebenarnya mereka hanya ingin hubungan tetap aman.
Kondisi ini penting dipahami karena kecemasan yang tidak diungkapkan dapat berkembang menjadi kemarahan. Sebaliknya, ketika pria mampu menyebutkan rasa takutnya dengan jujur, percakapan biasanya menjadi lebih tenang dan produktif.
Cara Membantu Pria Lebih Terbuka Saat Konflik
Memahami emosi pria saat bertengkar bukan berarti membenarkan semua sikapnya. Pasangan tetap berhak menyampaikan perasaan dan kebutuhan. Namun, beberapa pendekatan dapat membantu suasana tetap kondusif:
- Menunda diskusi jika emosi sudah terlalu tinggi, lalu melanjutkannya saat kedua pihak lebih tenang.
- Menggunakan kalimat yang fokus pada perasaan sendiri, misalnya “aku merasa sedih ketika…”, bukan menyalahkan.
- Memberi ruang untuk berhenti sejenak tanpa menganggapnya sebagai bentuk menghindar permanen.
- Mendengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas.
Pada akhirnya, pertengkaran bukan sekadar soal siapa yang benar. Di baliknya ada emosi, kebutuhan, dan rasa aman yang ingin dijaga. Dengan memahami apa yang dirasakan pria ketika bertengkar, pasangan dapat melihat konflik sebagai kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam, bukan sebagai ancaman bagi hubungan.












