Akhir bulan datang, saldo tabungan menipis, dan pertanyaan yang sama kembali muncul: uangnya habis ke mana? Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa penghasilannya memang kurang. Padahal, bagi sebagian orang, masalahnya bukan terletak pada nominal gaji, melainkan pada kebiasaan belanja yang tidak disadari.
Salah satu kebiasaan yang paling sering luput adalah membeli barang untuk hobi. Alat gambar yang belum pernah dibuka, kamera yang hanya dipakai sekali, sepeda yang berdebu di garasi, hingga peralatan memasak yang tersimpan rapi di lemari. Barang-barang itu dibeli dengan semangat tinggi, tetapi perlahan berubah menjadi pajangan.
Ketika Hobi Berubah Menjadi Alasan Belanja
Hobi seharusnya menjadi sumber kesenangan. Namun, ketika membeli perlengkapan hobi justru menjadi bagian dari kesenangan itu sendiri, muncul pola yang menarik perhatian para peneliti perilaku konsumen.
Secara umum, impulse buying atau belanja impulsif didefinisikan sebagai pembelian yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan, dan sering kali didorong keinginan mendadak. Konsumen yang melakukannya biasanya tidak membawa daftar belanja yang jelas, dan barang yang dibeli sering kali tidak termasuk kebutuhan utama. Akibatnya, rumah dipenuhi barang yang jarang atau bahkan tidak pernah digunakan.
Menariknya, sebuah tinjauan literatur tahun 2023 yang dipublikasikan di Indonesia menunjukkan bahwa penelitian tentang impulse buying selama satu dekade terakhir masih banyak berfokus pada produk hedonis seperti fesyen dan kosmetik. Produk yang bersifat fungsional, yang tampak lebih “wajar” untuk dibeli, justru kurang banyak diteliti, padahal produk semacam itu juga bisa dibeli secara impulsif. Artinya, pola ini tidak hanya terjadi pada belanja gaya hidup, tetapi juga pada pembelian yang terlihat produktif.
Mengapa Barang Hobi Mudah Sekali Masuk Keranjang
Ada beberapa alasan mengapa barang hobi begitu mudah dibeli.
Pertama, pembelian hobi sering dibingkai sebagai investasi untuk diri sendiri. Seseorang membeli kanvas dan cat air bukan semata karena ingin melukis, melainkan karena membayangkan dirinya menjadi orang yang lebih kreatif. Pakar perilaku konsumen menyebut pola ini sebagai aspirational buying, yaitu belanja untuk gaya hidup yang diinginkan, bukan gaya hidup yang sedang dijalani. Pembeli sebenarnya sedang membeli versi dirinya yang ideal, bukan barang itu sendiri.
Kedua, kepuasan yang didapat bersifat instan. Rasa senang saat paket datang atau saat membuka kotak baru sering kali lebih kuat daripada rasa senang saat benar-benar menggunakan barang tersebut. Perasaan ini memberi dorongan kuat untuk membeli lagi, sementara barang sebelumnya dibiarkan tak tersentuh.
Ketiga, lingkungan belanja turut memengaruhi keputusan. Promosi diskon, tampilan produk yang menarik, dan kemudahan belanja daring membuat keputusan terasa ringan. Sebuah survei terhadap sekitar 2.000 warga Inggris, sebagaimana dilaporkan sejumlah media, menemukan bahwa hampir separuh orewasa mengaku sering membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena letaknya dekat kasir atau sedang didiskon. Temuan ini memang berasal dari Inggris, tetapi pola perilakunya sangat mudah dikenali di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Barang Tidak Terpakai Ternyata Menyedot Lebih dari Sekadar Uang
Dampak barang yang menumpuk tidak berhenti di lemari. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Psychology & Marketing oleh Shruti Koley dan Brandon Reich menemukan bahwa ketika konsumen membeli produk lalu tidak menggunakannya, kecenderungan mereka untuk berbelanja di kemudian hari justru menurun. Penelitian ini menduga penyebabnya adalah rasa tidak nyaman karena merasa telah membuang uang.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa pemborosan tidak hanya soal uang yang keluar, tetapi juga soal rasa bersalah yang muncul setelahnya. Dengan kata lain, barang yang tidak terpakai bisa menciptakan tekanan psikologis tersendiri. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa efek tersebut lebih kuat ketika pemborosan dirasakan sebagai kegagalan finansial, bukan sekadar kegagalan menggunakan barang.
Perlu dicatat bahwa penelitian tersebut lebih berfokus pada pola pikir konsumen terhadap pemborosan, bukan menjelaskan secara langsung mengapa seseorang memiliki kebiasaan membeli barang hobi. Namun, temuan ini memberi gambaran bahwa barang yang menumpuk bisa memengaruhi cara seseorang memandang uangnya.
Cara Sederhana Mengurangi Belanja Impulsif
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa diubah tanpa harus menghilangkan semua hobi. Beberapa pendekatan yang didukung riset dapat dicoba.
Pertama, lihat dulu apa yang sudah dimiliki. Sebuah studi dari Rice University, sebagaimana dilaporkan dalam sejumlah pemberitaan, menemukan bahwa konsumen yang merefleksikan barang-barang yang sudah mereka gunakan cenderung memiliki keinginan lebih rendah terhadap produk baru yang tidak terduga. Mereka juga lebih jarang membeli secara impulsif. Sebelum membeli alat hobi baru, cobalah mengecek apakah peralatan lama masih bisa dipakai atau belum tuntas digunakan.
Kedua, beri jeda sebelum membeli. Aturan menunggu 24 hingga 72 jam sebelum checkout banyak direkomendasikan oleh para perencana keuangan. Jeda ini memberi waktu bagi keinginan untuk mereda, sehingga keputusan bisa diambil dengan kepala lebih dingin.
Ketiga, tanyakan secara jujur kapan barang itu akan dipakai. Pertanyaan sederhana seperti “Minggu ini saya akan memakainya di mana?” sering kali membuat seseorang sadar bahwa barang tersebut lebih banyak berfungsi sebagai simbol angan-angan.
Keempat, mulai dari yang kecil dan terukur. Daripada langsung membeli seperangkat peralatan lengkap, coba gunakan versi yang paling sederhana terlebih dahulu. Setelah benar-benar rutin digunakan, barulah pertimbangkan untuk upgrade.
Kelima, manfaatkan kebijakan pengembalian jika memungkinkan. Untuk pembelian yang ternyata tidak sesuai kebutuhan, mengembalikan barang bisa menjadi langkah yang lebih sehat dibandingkan membiarkannya menumpuk.
Bukan Soal Pelit, Tapi Soal Sadar Belanja
Penting untuk dipahami bahwa membeli barang hobi bukanlah kesalahan. Hobi tetap penting bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang. Persoalannya muncul ketika pembelian dilakukan tanpa sadar dan tidak lagi sebanding dengan waktu serta energi yang benar-benar diberikan untuk hobi tersebut.
Seorang pakar keuangan pribadi biasanya menyarankan agar setiap orang membuat anggaran khusus untuk hobi. Dengan batas yang jelas, keinginan membeli tetap bisa terpenuhi, tetapi tidak lagi mengacaukan kebutuhan lain. Anggaran ini juga membantu seseorang memilih barang yang benar-benar akan dipakai, bukan sekadar yang terlihat menarik saat sedang diskon.
Jadi, ketika dompet terasa cepat kering, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “Apakah gaji saya cukup?”, melainkan “Berapa banyak uang saya yang berakhir di barang yang tidak pernah saya gunakan?” Jawaban atas pertanyaan kedua sering kali lebih mengejutkan daripada yang dibayangkan.
Gaji memang berpengaruh besar terhadap kondisi keuangan. Namun, kebiasaan belanja juga punya peran yang tidak kalah penting. Barang hobi yang dibeli tanpa rencana, lalu dibiarkan menumpuk, dapat diam-diam menguras keuangan dari waktu ke waktu.
Sebelum menekan tombol checkout berikutnya, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini akan benar-benar dipakai, atau hanya akan menjadi pajangan baru di rak?












