Di lingkungan kerja modern, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bukan lagi sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi utama dari produktivitas perusahaan. Namun, betapapun ketatnya SOP (Standard Operating Procedure) yang diterapkan, insiden kecelakaan kerja masih kerap terjadi. Sering kali, akar permasalahan dari kecelakaan tersebut bukanlah kegagalan mesin atau kurangnya alat pelindung diri (APD), melainkan tindakan tidak aman (unsafe acts) yang dilakukan oleh pekerja itu sendiri.
Lalu, apa yang berkecamuk di benak Anda ketika tiba-tiba melihat rekan kerja melakukan pekerjaan tidak aman? Apakah Anda memilih untuk membuang muka karena tidak enak hati, atau langsung menegurnya dengan nada tinggi? Situasi ini dilematis. Di satu sisi, Anda tidak ingin merusak hubungan baik atau dicap sebagai “pencari muka” di kantor. Di sisi lain, Anda tahu betul bahwa kelalaian kecil tersebut bisa berakibat fatal, bahkan merenggut nyawa.
Menghadapi situasi ini membutuhkan keseimbangan antara empati, ketegasan, dan profesionalisme. Artikel ini akan mengupas tuntas langkah-langkah strategis yang harus Anda ambil ketika mendapati rekan kerja mengabaikan prosedur keselamatan kerja.
Memahami Akar Masalah: Mengapa Rekan Kerja Melakukan Unsafe Acts?
Sebelum melangkah pada tindakan korektif, penting bagi Anda untuk memahami mengapa seseorang melakukan tindakan berbahaya di tempat kerja. Berdasarkan berbagai investigasi keselamatan kerja, unsafe acts jarang terjadi karena niat buruk atau kesengajaan untuk mencelakai diri sendiri.
Sebagian besar kasus terjadi karena faktor kelelahan (fatigue), tekanan target pekerjaan yang terlalu tinggi, kurangnya pelatihan yang memadai, atau bahkan budaya perusahaan yang menormalisasi jalan pintas. Terkadang, pekerja merasa bahwa prosedur keselamatan terlalu rumit dan memakan waktu, sehingga mereka memilih mengambil risiko demi menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Dengan memahami sudut pandang ini, respons Anda tidak akan langsung menghakimi. Pendekatan yang berakar dari empati akan jauh lebih efektif daripada kemarahan atau pelaporan diam-diam yang berpotensi memicu konflik interpersonal di kemudian hari.
Langkah 1: Evaluasi Risiko dan Prioritaskan Keselamatan Seketika
Langkah pertama yang paling krusial ketika melihat rekan kerja melakukan pekerjaan tidak aman adalah menilai tingkat bahayanya. Apakah tindakan tersebut berpotensi menimbulkan cedera ringan, atau justru ancaman fatal yang seketika?
Jika situasi tersebut berada dalam kategori darurat ekstrem—misalnya seseorang hendak masuk ke area mesin bertegangan tinggi tanpa prosedur lockout/tagout (LOTO), atau bekerja di ketinggian tanpa full body harness yang dikaitkan—maka intervensi instan adalah sebuah keharusan mutlak.
Dalam kondisi darurat, lupakan sejenak kecanggungan sosial. Keselamatan manusia jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan rasa tidak enak hati. Berteriaklah atau berikan peringatan keras untuk menghentikan tindakan tersebut detik itu juga.
Langkah 2: Lakukan Pendekatan Personal yang Konstruktif
Jika situasinya tidak berada dalam ancaman maut seketika namun tetap berisiko tinggi, dekati rekan kerja tersebut secara personal. Hindari menegurnya di hadapan banyak orang atau di tengah rapat umum, karena hal ini berisiko memicu sikap defensif, rasa malu, dan permusuhan.
Ajak ia berbicara secara empat mata dengan nada bicara yang tenang, ramah, dan tidak menghakimi. Gunakan teknik komunikasi yang berfokus pada kepedulian terhadap keselamatan dirinya, bukan sekadar menyalahkan kesalahannya.
- Hindari kalimat menuduh: “Kamu ceroboh banget sih, kalau jatuh gimana?”
- Gunakan kalimat empati: “Eh bro/sist, hati-hati posisi kerjanya tadi agak rawan. Takutnya kamu kenapa-napa atau cedera. Mending pakai pengaman tambahan dulu.”
Sering kali, pendekatan yang bersahabat justru membuka ruang dialog. Rekan kerja Anda mungkin akan terbuka mengenai alasan mengapa ia mengambil jalan pintas tersebut, apakah karena kelelahan luar biasa atau alat kerja yang memang bermasalah.
Langkah 3: Tawarkan Solusi dan Bantuan Konkret
Terkadang, pekerja melakukan tindakan tidak aman bukan karena malas, tetapi karena fasilitas pendukungnya tidak memadai atau mereka tidak tahu cara menggunakan alat keselamatan yang benar.
Ketika Anda menegur seseorang, tunjukkan pula solusi praktisnya. Jika ia mengabaikan penggunaan kacamata pelindung karena tidak nyaman, tanyakan apakah ukuran kacamata tersebut pas atau bantu ia mengambilkan alat pelindung diri yang baru di gudang logistik. Jika ia terlihat kelelahan hingga kehilangan fokus, sarankan ia untuk mengambil jeda (coffee break) sejenak demi memulihkan konsentrasi.
Bantuan nyata ini menunjukkan bahwa Anda tidak sedang mencari-cari kesalahan mereka, melainkan benar-benar peduli pada keselamatan bersama di lingkungan kerja.
Langkah 4: Ketahui Kapan Harus Melibatkan Atasan atau Tim K3
Tidak semua intervensi personal berjalan mulus. Ada kalanya Anda berhadapan dengan rekan kerja yang keras kepala, defensif, atau bahkan mengabaikan teguran baik-baik Anda secara berulang-ulang. Jika teguran persuasif sudah dilakukan namun ia tetap mengulangi tindakan berbahaya tersebut, eskalasi masalah menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.
Jangan anggap melaporkan pelanggaran keselamatan sebagai bentuk “menusuk dari belakang” (backstabbing). Dalam dunia K3, membiarkan pelanggaran keselamatan sama artinya dengan ikut bertanggung jawab atas potensi kecelakaan yang mungkin terjadi di kemudian hari.
Laporkan situasi tersebut kepada:
- Atasan Langsung (Supervisor/Manager): Sampaikan fakta secara objektif tanpa bumbu emosional atau sentimen pribadi. Fokuskan laporan pada risiko operasional dan keselamatan tim.
- Petugas K3/HSE (Health, Safety, and Environment): Tim K3 memiliki kewenangan profesional untuk melakukan audit keselamatan, memberikan pelatihan ulang, atau mengevaluasi ulang prosedur kerja di area tersebut.
Membangun Budaya Kerja yang Saling Menjaga
Menegur rekan kerja yang melakukan tindakan tidak aman adalah wujud nyata dari kepemimpinan personal, terlepas dari apa pun jabatan Anda di perusahaan. Budaya keselamatan kerja yang kuat tidak lahir dari lembaran aturan tebal di atas meja manajemen, melainkan dari kepedulian sehari-hari antar-karyawan di lapangan.
Perusahaan kelas dunia selalu mendorong prinsip Stop Work Authority (SWA)—hak dan kewajiban setiap karyawan untuk menghentikan pekerjaan apa pun jika mereka melihat kondisi atau tindakan yang tidak aman. Dengan menerapkan prinsip ini, lingkungan kerja bertransformasi menjadi tempat yang tidak hanya produktif secara bisnis, tetapi juga aman dan manusiawi bagi setiap individu di dalamnya.
Ingatlah selalu bahwa di penghujung hari kerja, tujuan utama kita adalah pulang ke rumah dengan selamat dan berkumpul bersama keluarga tercinta dalam keadaan utuh. Jangan ragu untuk bertindak ketika Anda melihat rekan kerja melakukan pekerjaan tidak aman, karena tindakan kecil hari ini bisa menyelamatkan sebuah nyawa di masa depan.












