Kenapa Peran Ayah di Keluarga Sering Diremehkan? Padahal Penentu Masa Depan Anak Perempuan

Dari rasa percaya diri hingga cara memilih pasangan, pengaruh ayah pada anak perempuan ternyata lebih besar dari yang sering kita bayangkan.

Yuk, ketahui lebih dalam mengapa peran ayah keluarga sangat besar dalam menentukan masa depan anak perempuan!
Yuk, ketahui lebih dalam mengapa peran ayah keluarga sangat besar dalam menentukan masa depan anak perempuan!

Di banyak keluarga Indonesia, ayah masih sering dipandang sebagai “pencari nafkah”. Tugasnya dianggap selesai ketika gaji sudah ditransfer ke rumah. Urusan mengasuh, mendampingi belajar, hingga membicarakan perasaan anak dianggap wilayah ibu. Anggapan ini terdengar wajar, tetapi penelitian yang terus berkembang menunjukkan gambaran yang berbeda.

Keterlibatan ayah ternyata berkaitan dengan cara anak perempuan memandang dirinya, membangun hubungan, dan menentukan pilihan hidup. Pengaruhnya tidak selalu tampak hari ini, tetapi bisa terasa bertahun-tahun kemudian, saat ia memasuki masa remaja, dewasa, bahkan membangun rumah tangganya sendiri.

Ayah Adalah Laki-laki Pertama yang Dikenal Anak Perempuan

Bagi seorang anak perempuan, ayah sering menjadi figur laki-laki pertama yang ia kenal dari dekat. Dari cara ayah bicara, memperlakukan ibu, merespons kesalahan, dan menunjukkan kasih sayang, anak perempuan belajar sedikit demi sedikit tentang seperti apa laki-laki seharusnya bersikap.

Kebiasaan kecil ini membentuk ekspektasi. Sebuah tinjauan penelitian tentang keterlibatan ayah terhadap anak perempuan menyimpulkan bahwa ayah berpotensi memengaruhi keyakinan gender anak perempuan, termasuk rasa percaya diri mereka saat berhubungan dengan pasangan, pendidikan, dan peluang kerja. Ayah tidak menentukan segalanya, tetapi ia menjadi salah satu cermin pertama bagi anak perempuan dalam menilai dirinya sendiri dan orang lain.

Hal ini penting karena anak perempuan yang merasa dihargai di rumah cenderung membawa rasa aman itu ke luar rumah. Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan kehangatan yang minim bisa lebih mudah mencari validasi dari orang lain.

Apa Kata Penelitian Terbaru?

Salah satu temuan paling menarik datang dari sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada Agustus 2025 di jurnal Early Childhood Research Quarterly. Studi ini mengumpulkan berbagai penelitian tentang keterlibatan ayah dan perkembangan sosial-emosional anak usia dini. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif, meski tergolong sedang hingga lemah. Artinya, keterlibatan ayah memang berkontribusi, tetapi tidak berdiri sendiri.

Yang menarik, peneliti menemukan bahwa pengaruh ini bisa berbeda tergantung konteks. Dampak keterlibatan ayah dilaporkan lebih terasa pada anak perempuan, khususnya di negara-negara Asia, dan ketika kehangatan serta responsivitas ayah dinilai oleh ibu. Temuan ini menegaskan bahwa pola asuh tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, dan budaya setempat ikut membentuk bagaimana peran ayah dijalankan.

Baca Juga:  Kapan kebahagiaan sejati hidup bisa kita rasakan?

Penelitian lain dari Tiongkok juga memperkuat gambaran ini. Dalam studi terhadap remaja perempuan, kehadiran ayah berhubungan positif dengan resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dari tekanan dan tetap berfungsi dengan baik. Ini sejalan dengan temuan bahwa rasa aman yang diberikan ayah bisa menjadi “sandaran” bagi anak perempuan saat menghadapi tantangan.

Dari Rasa Percaya Diri hingga Pilihan Pasangan Hidup

Di Indonesia, sejumlah studi psikologi mulai menyoroti hubungan antara keterlibatan ayah dan kehidupan anak perempuan di masa dewasa. Salah satunya meneliti 418 perempuan dewasa awal berusia 18 hingga 25 tahun yang belum menikah dan pernah tinggal bersama ayah. Hasilnya menunjukkan keterlibatan ayah berpengaruh sekitar 7,2 persen terhadap preferensi memilih pasangan. Angka ini memang tidak besar, tetapi signifikan secara statistik dan menunjukkan bahwa pengalaman di rumah ikut membentuk kriteria seseorang dalam memilih pasangan.

Penelitian lain terhadap 191 perempuan dewasa awal yang tumbuh tanpa figur ayah yang suportif menemukan pola serupa. Peran ayah dikaitkan dengan cara perempuan mengambil keputusan dalam memilih pasangan hidup, dengan nilai determinasi sekitar 56,8 persen dalam model yang diuji. Angka ini perlu dibaca dengan hati-hati, karena setiap penelitian punya batasan sampel dan metode. Namun, arahnya konsisten: ayah yang hadir dan peduli membantu anak perempuan membangun standar yang sehat dalam hubungan.

Hubungan ini juga terlihat dari sisi emosional. Pengasuhan ayah yang positif dikaitkan dengan kemampuan anak perempuan mengelola emosi, membangun kepercayaan, dan menghadapi konflik dalam hubungan. Sebaliknya, kurangnya kehadiran ayah bisa membuat sebagian perempuan lebih sulit mempercayai pasangan atau merasa kurang percaya diri saat menjalin hubungan romantis.

Mengapa Peran Ayah Sering Terabaikan?

Ada beberapa alasan mengapa peran ayah kerap diremehkan. Pertama, sejak lama masyarakat menempatkan ibu sebagai pusat pengasuhan. Ibu dianggap lebih sering berinteraksi langsung dengan anak, sehingga kehadiran ayah sering dilihat sebagai pelengkap. Padahal, keterlibatan tidak selalu diukur dari seberapa lama waktu bersama, melainkan dari kualitas interaksi.

Baca Juga:  Etika Kerja Buruk? Ini Cara Pasang Batasan ke Teman Kantor!

Kedua, ada tekanan budaya tentang maskulinitas. Ayah diharapkan kuat, tegas, dan jarang menunjukkan emosi. Akibatnya, banyak ayah merasa tidak tahu harus berperan seperti apa selain mencari nafkah. Sebuah studi kualitatif tentang ayah di Tiongkok, misalnya, menemukan bahwa para ayah sering memegang peran tradisional sekaligus berusaha lebih dekat dengan anak. Dukungan dari pasangan dan keluarga besar ikut menentukan seberapa jauh keterlibatan itu bisa berjalan.

Ketiga, kesibukan kerja membuat banyak ayah kesulitan meluangkan waktu. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah tidak harus dalam bentuk kuantitas. Kehangatan, percakapan yang tulus, dan kehadiran emosional sering kali lebih berarti daripada durasi bersama yang panjang.

Fatherless: Dampak yang Nyata, tetapi Bisa Dipulihkan

Istilah fatherless merujuk pada kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran ayah secara fisik maupun emosional. Kondisi ini bisa terjadi karena perceraian, kematian, merantau, atau ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak terlibat secara emosional. Yang terakhir sering luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa sama beratnya.

Kabar baiknya, dampak fatherless tidak bersifat permanen. Anak perempuan yang mengalami kekosongan peran ayah masih bisa mendapatkan dukungan dari figur lain, seperti kakek, paman, guru, atau pasangan yang sehat. Pemulihan hubungan dengan ayah juga mungkin dilakukan jika kedua pihak bersedia membuka percakapan dan memperbaiki komunikasi. Dalam hal ini, konseling keluarga atau psikolog bisa menjadi jembatan yang membantu.

Ayah yang Hadir Tidak Harus Sempurna

Menjadi ayah yang terlibat tidak berarti harus selalu tahu jawaban atau bisa menyelesaikan semua masalah. Justru keterbukaan membuat anak merasa aman. Ayah yang mau mengakui kesalahan, meminta maaf, dan terus belajar memberi contoh yang kuat bagi anak perempuannya.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Luangkan waktu rutin untuk berbicara tanpa gangguan ponsel. Dengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi. Dorong anak perempuan untuk berani mengambil keputusan dan memberikan apresiasi atas usahanya, bukan hanya hasilnya. Ayah juga bisa menunjukkan rasa hormat kepada ibu dan orang lain di sekitarnya, karena anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat sehari-hari.

Baca Juga:  Gampang Banget! Cara Membangun Personal Branding di Media Sosial

Peran ini juga bisa dibagi bersama pasangan. Ibu yang mendukung keterlibatan ayah, dan ayah yang bersedia terlibat dalam pengasuhan, sama-sama membantu anak tumbuh dengan rasa aman yang utuh.

Penutup: Ayah Ikut Menentukan Masa Depan

Peran ayah sering dianggap pelengkap, padahal kehadirannya ikut membentuk cara anak perempuan melihat dirinya, memilih pasangan, dan menghadapi dunia. Penelitian memang masih terus berkembang, dan sebagian besar studi di Indonesia berskala kecil atau bersifat korelasional, sehingga belum bisa menjelaskan hubungan sebab-akibat secara pasti. Namun, arah temuannya cukup konsisten: keterlibatan ayah yang hangat dan responsif berkaitan dengan kesejahteraan anak perempuan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ayah penting, melainkan bagaimana ayah bisa hadir dengan lebih utuh. Untuk para ayah, mungkin inilah saatnya meninjau ulang peran di rumah. Untuk keluarga dan masyarakat, sudah saatnya memberi ruang dan dukungan agar ayah bisa menjadi bagian aktif dalam tumbuh kembang anak perempuan.

Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *