Hampir semua pasangan pernah berselisih. Yang membuat hubungan terasa berat bukan sekadar adanya perbedaan pendapat, melainkan cara kedua pihak merespons ketika konflik muncul. Salah satu pola yang paling sering dikeluhkan adalah pasangan yang “kabur”: tiba-tiba diam, meninggalkan ruangan, mematikan ponsel, atau menghindari pembicaraan sama sekali setiap kali masalah mulai memanas. Bagi pihak yang ditinggal, situasi ini sering terasa seperti pintu yang dibanting tanpa penjelasan.
Kabar baiknya, pola ini bisa diubah. Kuncinya bukan memaksa pasangan untuk langsung berubah, tetapi membangun kebiasaan positif baru, baik dari sisi kita maupun dari sisi hubungan secara bersama-sama. Artikel ini membahas mengapa seseorang cenderung kabur, bagaimana mengenali polanya, dan langkah-langkah praktis yang bisa dicoba.
Mengapa Pasangan Cenderung Kabur saat Konflik
Menghindar saat berkonflik bukan selalu tanda ketidakpedulian. Banyak orang melakukannya karena merasa kewalahan secara emosional. Ketika tubuh merasakan tekanan, detak jantung meningkat, napas menjadi pendek, dan pikiran terasa penuh. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang tidak lagi mampu berpikir jernih dan memilih menjauh sebagai cara melindungi diri.
Peneliti hubungan pasangan seperti John Gottman mengenal istilah stonewalling, yaitu sikap menarik diri dari interaksi sebagai respons terhadap konflik. Gottman memasukkannya sebagai salah satu pola yang paling merusak dalam hubungan, bersama kritik berlebihan, sikap merendahkan, dan defensif. Yang penting dipahami, pola ini sering berkembang dari pengalaman lama: keluarga yang tidak mengajarkan cara membicarakan perbedaan, pengalaman konflik yang berakhir dengan pertengkaran hebat, atau kebiasaan sejak kecil untuk menghindari masalah.
Ada juga pola yang disebut pursue-withdraw, ketika satu pihak cenderung mendekat dan menuntut penyelesaian, sementara pihak lain justru menjauh. Semakin satu pihak mendesak, semakin besar dorongan pihak lain untuk kabur. Akibatnya, kedua pihak terjebak dalam lingkaran yang sama tanpa ada yang benar-benar merasa didengar.
Mengenali Pola Sebelum Mengubahnya
Langkah pertama adalah mengamati pola dengan jujur. Tanyakan pada diri sendiri: kapan biasanya pasangan mulai menjauh? Apakah saat topik tertentu dibahas, seperti keuangan, keluarga, atau kebiasaan sehari-hari? Apakah ia menghilang sebentar lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa? Atau justru menghilang berhari-hari?
Mengenali pemicu membantu kita tidak terkejut setiap kali pola itu muncul. Catatan sederhana di ponsel tentang kapan konflik terjadi dan bagaimana respons masing-masing bisa menjadi bahan refleksi yang berguna. Namun, hindari membuat catatan itu sebagai bukti untuk menyerang pasangan. Tujuannya memahami, bukan membangun dakwaan.
Membangun Kesepakatan Jeda yang Sehat
Salah satu strategi paling praktis adalah menyepakati mekanisme jeda, atau time-out, sejak keadaan sedang tenang. Ini bukan tentang membiarkan masalah menggantung, melainkan memberi ruang agar kedua pihak bisa menenangkan diri sebelum kembali berdiskusi.
Kesepakatan jeda yang efektif memiliki tiga unsur. Pertama, ada kata atau isyarat yang disepakati untuk menandai kebutuhan jeda, misalnya “aku perlu waktu sebentar”. Kedua, ada batas waktu yang jelas, misalnya 30 menit atau satu jam, sehingga jeda tidak berubah menjadi penghilangan tanpa kabar. Ketiga, ada komitmen untuk kembali membahas masalah dalam waktu yang telah ditentukan.
Perbedaan antara jeda sehat dan kabur terletak pada komunikasinya. Jeda yang sehat disampaikan dengan jelas dan disertai janji untuk kembali. Kabur adalah menghilang tanpa penjelasan. Ketika pasangan mengatakan butuh waktu, hormati permintaan itu, dan pastikan kita juga kembali pada waktu yang disepakati.
Mengubah Cara Memulai Percakapan
Sering kali pasangan kabur karena percakapan dimulai dengan nada yang terasa menyerang. Kalimat seperti “Kamu selalu begitu, tidak pernah mau dengar” hampir pasti membuat siapa pun ingin membela diri atau pergi.
Gottman menyebut pendekatan yang lebih lembut sebagai soft startup, yaitu memulai pembicaraan dengan menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan. Bandingkan dua kalimat ini. “Kamu selalu menghilang tiap kita bahas soal ini” terdengar seperti tuduhan. Sementara “Aku merasa cemas saat kita belum selesai bicara, dan aku ingin kita sama-sama menemukan jalan keluarnya” membuka ruang untuk dialog.
Menggunakan pernyataan yang berfokus pada diri sendiri, seperti “aku merasa” atau “aku membutuhkan”, membantu menurunkan tingkat defensif. Pasangan lebih mudah mendengarkan ketika ia tidak merasa sedang diserang.
Membiasakan Upaya Perbaikan Kecil
Dalam hubungan, perbaikan setelah konflik sama pentingnya dengan konflik itu sendiri. Para peneliti hubungan menyebutnya repair attempts, yaitu upaya kecil untuk meredakan ketegangan, seperti mengucapkan maaf, menyentuh lengan pasangan, atau mengatakan “aku ingin kita baik-baik saja”.
Kebiasaan ini bisa dibangun secara bertahap. Setelah pertengkaran, luangkan waktu singkat untuk menyampaikan bahwa kita menghargai hubungan ini. Jika pasangan belum siap bicara, cukup katakan bahwa kita akan menunggu dan tidak akan memaksanya. Pesan singkat yang menenangkan sering kali lebih berarti daripada penjelasan panjang yang terburu-buru.
Yang juga penting adalah mengakui bagian kita sendiri dalam konflik. Pasangan yang kabur sering kali merasa terlalu kewalahan untuk mencari kesalahan dalam dirinya. Ketika kita lebih dulu mengakui peran kita, ruang untuk berdamai biasanya terbuka lebih lebar.
Menciptakan Rutinitas Komunikasi di Luar Konflik
Kebiasaan positif tidak hanya dibangun saat masalah muncul. Justru rutinitas komunikasi di waktu tenang menentukan seberapa aman pasangan merasa ketika berselisih.
Luangkan waktu harian atau mingguan untuk berbincang tanpa agenda khusus, misalnya saat sarapan atau sebelum tidur. Tanyakan bagaimana harinya dan dengarkan tanpa buru-buru memberi solusi. Apresiasi hal-hal kecil yang dilakukan pasangan, karena rasa dihargai membuat seseorang lebih terbuka saat menghadapi masalah.
Dalam jangka panjang, kebiasaan kecil seperti ini menumbuhkan rasa aman. Pasangan belajar bahwa berbicara tentang perbedaan tidak selalu berujung pada pertengkaran hebat, sehingga dorongan untuk kabur perlahan berkurang.
Mengelola Emosi Diri Sendiri
Upaya mengubah pola pasangan juga menuntut kita mengelola emosi sendiri. Ketika ditinggal tanpa penjelasan, wajar jika muncul rasa kesal, cemas, atau ditolak. Namun, mengejar pasangan dengan pesan beruntun atau menyalahkannya di depan orang lain biasanya hanya memperkuat keinginannya untuk menjauh.
Beberapa cara yang bisa membantu antara lain mengambil napas dalam-dalam, menulis apa yang sebenarnya kita rasakan sebelum berbicara, dan mengingatkan diri bahwa kita sedang mencari solusi, bukan kemenangan. Olahraga ringan, berjalan kaki, atau aktivitas yang menenangkan juga dapat membantu menurunkan ketegangan.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional
Tidak semua pola kabur bisa diselesaikan sendiri. Jika pasangan selalu menghindar dalam jangka panjang, komunikasi sama sekali tidak berjalan, atau konflik sering berubah menjadi kekerasan verbal maupun fisik, bantuan profesional sangat dianjurkan. Konselor atau psikolog pasangan dapat membantu kedua pihak memahami pola yang terjadi dan membangun cara berkomunikasi yang lebih sehat.
Jika ada ancaman keselamatan, prioritas utama adalah memastikan keamanan diri sendiri dan orang-orang terdekat. Dalam situasi seperti ini, mencari bantuan dari keluarga, teman tepercaya, atau layanan pengaduan setempat lebih penting daripada mempertahankan percakapan.
Mengatasi pasangan yang kabur saat ada masalah bukan soal memenangkan perdebatan, melainkan membangun cara bersama untuk menghadapi perbedaan. Kesepakatan jeda, perubahan cara memulai percakapan, upaya perbaikan kecil, rutinitas komunikasi yang hangat, dan pengelolaan emosi diri sendiri adalah fondasi yang bisa dibangun perlahan.
Perubahan biasanya tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap percakapan yang berakhir dengan rasa saling didengar adalah langkah kecil menuju hubungan yang lebih aman. Mulailah dari satu kebiasaan, konsisten menjalankannya, dan beri ruang bagi pasangan untuk ikut tumbuh bersama.












